Rancak//Overlow
Entah kenapa, aku jarang sekali duduk bersebelahan dengan wanita cantik di pesawat. Memang hal ini sama sekali tidak penting, apalagi jelas tidak mungkin untuk meminta kepada pihak tours & travel untuk menempatanku di kursi yang bersebelahan dengan perempuan berpenampilan menarik. Tapi siapa sih yang akan keberatan didampingi oleh seorang wanita cantik dalam masa penerbangan? Lihat saja para pramugari yang rata-rata adalah perempuan berpenampilan menarik.
Pernah sih suatu saat di pesawat Malaysia Airlines aku beruntung ditempatkan bersebelahan dengan seorang cewek bule yang definitely good looking. sayangnya, belum sempat aku mengucapkan suatu kalimatpun, dia sudah memotong lebih dulu, “Hi, do you speak English. Can you kindly please switch your seat with my husband there“, katanya menunjuk pada seorang pria bule di sebuah kursi yang berjauhan di pesawat itu. “He’s definitely unhappy about us having to flight on separate places“. Sama sekali tidak ada alasan untuk menolak permintaan seperti itu.
Hingga akhirnya kesempatan terbang bersebelahan dengan wanita cantik terjadi jadi ketika aku berangkat mudik lebaran tahun ini dengan pesawat dari Jakarta ke Padang. Perempuan ini sepertinya agak terlambat datang untuk check out, sehingga datang terburu-buru dengan langkah-langkah cepat ke tempat duduknya. Kesan terburu-buru masih tetap melekat saat dia meletakkan barang-barangnya dan bergegas mengenakan sabuk pengaman, karena pesawat akan segera take off.
Rasanya sulit bagi siapapun untuk membantah kecantikan perempuan di sebelahku ini. Menilik raut wajahnya yang oriental, badannya yang tinggi semampai, kulitnya yang sangat terawat, hingga cara berpakaiannya yang berkelas, sepertinya dia bukanlah orang sembarangan. Apakah dia adalah seorang pengusaha sukses yang sedang melakukan investasi di Padang? Atau mungkinkah seorang selebriti yang belum begitu terkenal sehingga wajahnya belum begitu familiar.
Jangan berpikir kalau aku lalu jadi tertarik untuk mengejar perempuan ini. Sebagai seorang kolektor komik, aku sangat akrab dengan metodenya Sun Tzu. Langkah pertama yang akan direkomendasikan Sun Tzu adalah : kalkulasi. Tidak perlu menjadi Einstein untuk tahu bahwa mengejar-ngejar wanita seperti ini bukanlah langkah yang bijaksana. She’s definitely out of my league. Yah, anggap saja kebetulan bisa terbang bersebelahan dengan seorang artis atau bintang film. Tidak perlu berpikir berlebihan.
Jujur saja, selama penerbangan tentu saja aku sebentar-sebentar menyempatkan melirik kearahnya. Cewe cakep banget geeto looooh. Apalagi kelakuannya terbilang tidak biasa. Sebelum pesawat take off misalnya seorang anak kecil berwajah oriental berlari kearahnya hanya untuk dimarahi, “get back there to your brothers“! Siapakah anak kecil itu? Anaknya? Kenapa pula harus dimarahi dalam bahasa Inggris? Semacam pendidikan bahasa Inggris sejak dini bagi anak-anak?
Hal ini terus berlanjut. Setiap kali pramugari atau petugas lainnya di pesawat mengajaknya bicara dengan bahasa Indonesia, mulai dari sekedar mengingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman hingga menawarkan makanan, perempuan di sebelahku ini selalu menjawabnya bahasa Inggris. Asumsiku tentang dirinyapun berubah. Mungkin wanita ini memang adalah seorang warga negara asing, walaupun kalau dilihat dari wajahnya siapapun akan menyangka kalau dirinya adalah warga negara Indonesia. Dari negara manakah dia berasal? Aku sudah bertemu dengan banyak orang asing, tapi aksen yang digunakan oleh perempuan ini sama sekali tidak familiar. Bahasa Inggrisnya terlalu bagus untuk seorang warga Singapura pada umumnya, misalnya.
Segera terlihat bahwa perempuan ini adalah seorang wanita karir yang sibuk. Begitu pesawat selesai take off, dia langsung mengambil komputer laptop dan bekerja dengan sibuknya. Urusannya pastilah sangat mendesak sehingga dia tidak bisa membuang-buang waktu perjalanan ini yang sebenarnya hanya sekitar dua jam. Segera dia asyik dengan pekerjaannya, memeriksa email dan membuka beberapa file berformat Microsoft Excel. Aku yang makin penasaran sebentar-sebentar melirik laptopnya, mencari petunjuk tentang identitas sebenarnya dari wanita dirinya.
Dua jam hampir berlalu dan pesawat mulai mendarat. Rasa ingin tahuku semakin besar sehingga aku memutuskan untuk langsung bertanya saja pada perempuan di sebelahku ini. Yah, daripada penasaran terus-menerus. Lagipula aku cukup percaya diri pada kemampuanku berbahasa Inggris.
“Hi, can I ask You something? You look like an Indonesian but You are definitely not. Where are You from?” pertanyaanku itu akhirnya memecahkan kebuntuan komunkasi yang sejak tadi terjadi diantara kami.
“Yes, actually I am half-Indonesian. My father is a Philipino and my mother is an Indonesian. I am an indonesian citizen”
“You are an Indonesian citizen and You cannot speak the Indonesian language?”
“Well, You see, I grew up at Philipina and studied at Australia. Besides, my mother never taught me too much of Indonesian language either.”
“I see. What are You doing here in Padang anyway? Are You here for business?”
Jawaban yang kudapat cukup mengejutkan.
“No, I’m here on Iedul Fitri holiday. You know what, I’m a moslem. My whole family come to Padang every year to celebrate Iedul Fitri holiday at my grandma’s house.”
“You gotta be kidding me”
“No, my grandma lives here at Padang. The mother of my mother”
Perkembangan yang cukup menarik. Perempuan rancak yang eksotis ini ternyata adalah urang awak juga.
“How did you father met you mother.”
“They met while they’re both on vacation to Bali.”
Jadi ternyata demikianlah halnya. Wanita ini adalah seorang blasteran Philipina-Indonesia yang datang ke Padang untuk merayakan Iedul Fitri bersama keluarganya. Hal yang tidak kusangka-sangka sebelumnya.
“Are You gonna be here for long?”
“No, I’ll only be here for two days. I don’t like Padang. It’s too hot.”
“Tell me about it. I grew up here.”
“Padang is way too hot. The thing is I have to go here every year. I have no choices.”
Bagi yang penasaran dengan urang awak berwajah oriental yang rancak ini, dia bekerja untuk perusahaan minyak ExxonMobil, yang mengharuskannya selalu bolak balik setiap beberapa hari dari Australia ke Jakarta.
“What is your name?”
“My name is Chantal.”
“Chantal? Like Chantal Kreviazuk?”
“Yes, like Chantal Kreviazuk”
——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————
Dua minggu kemudian, dalam perjalananan pulang aku kembali duduk bersebelahan dengan seorang warga negara asing, yang sayangnya kali ini adalah seorang pria. Sama sekali tidak ada niat untuk berbincang dengannya.
November 10th, 2007 at 8:11 am
Ending yang bagus!
Waktu aku masih nglaju dari Klaten ke SMAN 2 Demak, naik bus tentunya, kalo sebelahnya cowok, gendut lagi..
tidur bae kang,
atau baca buku. Lumayan dapat tambahan pengetahuan dikit.
January 31st, 2008 at 9:54 pm
hehehehe Jodh, si cewek udah married belum…???
January 29th, 2009 at 4:16 am
Halah. Menggantung. Setelah tahu nama, terus…?
February 16th, 2009 at 7:30 pm
well, cewe cantik. biasa bgt-
tapi keren bgt cerita ortunya yg ktm di bali. so romantic…