Archive for October, 2007

Memasarkan 3G, Diantara Perang Tarif Murah

Thursday, October 11th, 2007

Sudah setahun berlalu sejak operator-operator seluler indonesia mengimplementasikan teknologi 3G. Sebagai sebuah teknologi yang menandai generasi berikutnya yang lebih mutakhir dalam perkembangan teknologi seluler, kehadiran teknologi 3G diharapkan memberikan warna baru dalam dunia telekomunikasi seluler Indonesia. Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkannya, layanan-layanan 3G diharapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar Indonesia.

Kenyataanya, masyarakat tidak menyambut teknologi 3G dengan gegap gempita. Perhatian khalayak lebih banyak tercurah pada tarif murah yang ditawarkan oleh operator-operator telekomunikasi, untuk hubungan telepon maupun sms. Segera masyarakat terpukau oleh telekomunikasi berharga murah yang ditawarkan. Saat ini anda bisa menggunakan handphone untuk berlama-lama menelepon, tanpa perlu khawatir biayanya akan mengganggu keuangan anda.

Tak pelak lagi, konsentrasi para operator-operator telekomunikasi selulerpun beralih untuk bersaing menyajikan layanan telepon dan sms yang semakin murah. Perang tarif tak bisa dihindari. Harus diakui bahwa telepon dan sms masih menjadi barang dagangan utama bagi para operator komunikasi seluler, sehingga mau tidak mau mereka harus berusaha menyajikan layanan telepon dan sms yang kompetitif, dalam segi kualitas ataupun harga.

Pertanyaannya, ditengah perang tarif murah ini, masihkah ada kemungkinan untuk memasarkan layanan-layanan berbasis 3G? Apakah investasi begitu besar yang telah dikeluarkan para operator telekomunikasi seluler untuk implementasi 3G hanya sia-sia belaka? Apakah masyarakat memang tidak membutuhkan teknologi 3G, ataukah layanan-layanan yang ada belum mampu menyentuh kebutuhan masyarakat?


Apakah 3G Masih Layak Jual?

Kegagalan 3G untuk menjadi segera menjadi fenomena dalam dunia telekomunikasi Indonesia tak ayal mencuatkan keraguan. Mungkinkah yang dibutuhkan masyarakat hanyalah telepon murah dan sms murah? Masihkah ada harapan yang bisa ditawarkan oleh layanan 3G?

Sebenarnya kurang bergemanya teknologi 3G di Indonesia tidak perlu membuat para operator telekomunikasi seluler berkecil hati. Sesungguhnya, hal ini adalah sebuah fenomena global. Di negara-negara lainpun teknologi 3G masih mencari dalam tahap mencari bentuk agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Tersedianya layanan-layanan berbasis 3G ternyata tidak membuat konsumen serta-merta merasa membutuhkannya. Masih butuh waktu bagi layanan-layanan berbasis 3G untuk dapat diterima secara luas oleh khalayak .

Karena itu tidak ada salahnya untuk melihat sisi positif dan tetap bersikap optimis. Ada sejumlah alasan bagi operator-operator telekomunikasi Indonesia untuk terus mengembangkan dan memasarkan layanan-layanan berbasis 3G.

1.      Tidak mungkin selamanya mengandalkan layanan telepon dan sms tarif murah.

Konsumen mungkin adalah pihak yang paling diuntungkan oleh perang tarif murah yang dilakukan para operator telekomunikasi seluler. Kegiatan menelepon dan mengirim sms sekarang dapat dilakukan tanpa perlu khawatir akan biaya yang dibutuhkan.

Namun, disisi lain, bagi para operator sendiri , apakah perang tarif ini menguntungkan? Jelas bahwa margin keuntungan yang didapatkan untuk setiap satuan waktu pembicaraan menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya. Dengan demikian tentunya keuntungan diharapkan datang dari meningkatnya volume pembicaraan dan sms. Logikanya, biaya komunikasi telepon seluler dan sms yang murah akan merangsang konsumen untuk makin sering memanfaatkan telepon seluler dan sms, dengan demikian keuntungan mengalir seiring meningkatnya volume pembicaraan telepon dan sms yang dilakukan masyarakat.

Namun begitu, suatu saat peningkatan volume pembicaraan telepon dan sms akan sampai pada sebuah titik stagnan. Suatu saat mungkin volume pembicaraan telepon dan sms masyarakat Indonesia akan sampai pada daya dukung maksimalnya. Disaat inilah para operator telekomunikasi seluler yang jumlahnya semakin banyak harus saling bersaing untuk memenangkan pangsa pasar yang terbatas. Agaknya, kondisi seperti ini tidak akan menjanjikan keuntungan yang begitu menggiurkan bagi para operator. Kesimpulannya, pihak operator harus memiliki sumber penghasilan andalan lainnya.

2.      Operator perlu mencari tambahan dari layanan-layanan value-added services (VAS), termasuk layanan-layanan VAS yang berbasis 3G

Seperti dipaparkan sebelumnya, pihak operator harus memiliki sumber penghasilan andalan selain dari pembicaraan telepon dan sms. Disini, layanan berbasis 3G harus mendapatkan perhatian serius dan menjadi prioritas. Operator harus jeli membaca kebutuhan masyarakat, dan menawarkan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Lalu kenapa layanan-layanan berbasis 3G harus mendapatkan prioritas? Salah satu hal yang mendorong dinamika bisnis di dunia seluler adalah peluncuran produk-produk handphone terbaru. Masyarakat terbilang antusias dalam menyambut produk handphone keluaran terbaru. Lihat saja panjangnya antrian pada waktu peluncuran produk handphone Nokia E90 Communicator di pasaran.

Produk handphone terbaru saat ini, tentu saja mendukung teknologi 3G, yang merupakan teknologi state of the art dalam dunia seluler saat ini. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, peluncuran produk demi produk handphone mutakhir ini akan membantu proses edukasi pasar akan manfaat teknologi 3G ini. Proses edukasi pasar ini akan semakin efektif apabila pihak operator telekomunikasi seluler dapat mendukung dengan layanan-layanan 3G yang menarik minat msyarakat. Kerjasama antara pihak produsen handphone dengan pihak operator telekomunikasi seluler menjadi langkah strategis yang diperlukan untuk menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Membaca Pasar Telekomunikasi Indonesia

Sebelum berusaha merumuskan strategi pemasaran apa yang dapat diambil, ada baiknya kita melakukan brainstorming dulu dalam upaya membaca pasar telekomunikasi

Indonesia

.

Membaca Konvergensi Teknologi Informasi dan Seluler

Teknologi informasi dan teknologi seluler semakin lama semakin menunjukkan konvergensi. Data yang dulunya dibuat dan diedit di komputer, kini juga dapat dibuat dan diedit di handphone. Berbagai teknologi seperti infrared dan bluetooth mempermudah transfer data antara handphone dengan komputer. Jika tadinya handphone harus menggunakan WAP browser karena kualitas prosesor dan memori yang terbatas, saat ini prosesor dan memori handphone sudah mencukupi untuk menggunakan HTML browser, layaknya PC. Aplikasi-aplikasi yang tadinya dijalankan di komputer mulai memiliki varian yang bisa dijalankan di handphone. Jika dulu normalnya chatting dilakukan dari PC dan menelepon dilakukan dari handphone, saat ini bukan hal aneh jika seseorang melakukan chatting dari handphone dan menelepon dari PC.

Konvergensi teknologi informasi dengan dunia seluler ini memiliki konsekwensi lain yang signifikan. Bisa diasumsikan bahwa konsumen teknologi seluler biasanya adalah juga konsumen teknologi informasi. Kita dapat menyimpulkan bahwa pasar teknologi informasi dan pasar teknologi seluler memiliki irisan yang cukup besar.

Dalam usaha menemukan layanan 3G yang dapat diterima luas di masyarakat, patut dipertimbangkan untuk meninjau lebih jauh aplikasi yang populer dan trend yang ada di dunia teknologi informasi. Diantara aplikasi dan trend di dunia teknologi informasi tersebut, mungkin kita bisa menemukan aplikasi dan trend yang juga dapat diterapkan di dunia seluler, dalam bentuk layanan 3G. Karena sudah lebih dulu populer di dunia teknologi informasi, layanan-layanan 3G hasil konversi ini tentunya akan menghadapi resistensi yang lebih kecil dibandingkan layanan-layanan 3G yang baru sama sekali.


Menyikapi Kedatangan Wimax

Sementara pihak operator telekomunikasi seluler masih kesulitan memamasarkan layanan-layanan 3G, Wimax yang tergolong teknologi 4G yang satu generasi lebih canggih akan segera hadir di Indonesia, mungkin di tahun 2008. Tidakkah kehadiran Wimax ini akan menjadi ancaman bagi para operator penyedia layanan 3G? Bagaimanakah sebaiknya menyikapi kedatangan Wimax?

Sebagus apapun kemampuan Wimax, tetap tidak mudah untuk menembus pasar Indonesia dan menjaring konsumen. Tersendatnya teknologi 3G setahun belakangan ini jelas menunjukkan resistensi pasar yang cukup besar. Memposisikan Wimax sebagai saingan 3G rasanya tidak menguntungkan pihak manapun.

Kerjasama agaknya adalah solusi terbaik yang menjanjikan sinergi. Wimax dengan kapasitasnya yang besar dapat membantu meningkatkan performa layanan-layanan berbasis 3G. Di sisi lain, bagi pihak yang mengimplementasikan Wimax, bekerjasama dengan operator teknologi seluler yang telah memiliki jutaan pelangan adalah lebih baik daripada berusaha menjaring pelanggan sendiri dari awal.

Membidik Konsumen Eksklusif

Mungkin wajah umum konsumen telekomunikasi seluler Indonesia adalah konsumen telepon dan sms tarif murah. Namun begitu, sebenarnya di tanah air terdapat tipe konsumen lain yang lebih eksklusif dengan kemampuan ekonomi memadai. Antrian panjang pada peluncuran produk Nokia E90 communicator menjadi bukti yang sahih akan keberadaan para konsumen eksklusif ini. Mereka ini membelanjakan uang di dunia seluler mulai dari untuk memenuhi kebutuhan komunikasi, kepentingan bisnis hingga sekedar untuk gaya hidup.

Para konsumen eksklusif inilah seharusnya segmen pasar yang harus diincar layanan-layanan berbasis 3G. Operator telekomunikasi seluler harus mambangun citra layanan-layanan berbasis 3G sebagai sesuatu yang berkelas, eksklusif dan melambangkan gaya hidup. Penajaman segmen pasar yang hendak dibidik ini adalah faktor yang krusial.


Memasarkan Layanan 3G

Video streaming : Memanfaatkan Momen Sukses YouTube

YouTube adalah sebuah fenemena di dunia teknologi informasi. Situs ini memungkinkan para pengguna untuk melakukan upload terhadap video, dan kemudian video tersebut dapat dinikmati di seluruh dunia dengan teknologi video streaming. Berbagai hal dapat kita temukan disini, mulai dari rekaman video pribadi seperti upacara pernikahan, hingga group band yang berusaha mempromosikan diri. Begitu populernya YouTube sehingga berbagai situs serupa segera bermunculan di internet.

Teknologi video streaming juga telah merambah dunia seluler. Lihat saja Nokia yang telah mendukung video streaming sejak peluncuran produk handphone Nokia N95. Hal ini akan membuka ruang pemasaran baru di dunia seluler.

Video streaming sesungguhnya bukanlah hal yang rumit. Pihak penyedia layanan mengelola file-file video di server, kemudian pengguna melakukan upload dan memainkan rekaman video tersebut. Ini bukanlah hal yang sulit bagi operator telekomunikasi seluler yang telah mengimplementasikan teknologi HSPDA.

Masalahnya sekarang adalah mencari layanan-layanan yang tepat untuk ditawarkan kepada khalayak. Berikut adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa dipertimbangkan:

1.      Berita

Dalam hal berita, kebanyakan orang lebih menyukai bentuk visual daripada tektual. Operator seluler dapat menawarkan berita terkini ke masyarakat dalam bentuk video streaming. Pihak operator dapat bekerjasama dengan stasiun televisi untuk mendapatkan rekaman berita dari sumber terpercaya.

2.      Klip musik

Kesuksesan layanan nada dering menjadi alasan bagi operator untuk optimis akan penerimaan masyarakat akan layanan klip musik melalui video streaming. Pada dasarnya tampilan visual dari para artis musik adalah sesuatu yang diminati oleh para penggemarnya. Tinggal bagaimana mengelola potensi pasar ini sebaik baiknya.

3.      Momen olahraga

Para penggemar olahraga fanatik adalah potensi pasar yang besar. Lihak saja reaksi para penggemar liga Inggris saat acara kesayangan mereka menghilang dari layar kaca. Oprator dapat menwarakan layanan seperti video stream dari gol-gol yang tercipta pada pertandingan-pertandingan yang baru saja berlangsung.

Mobile internet : Jawaban untuk Kebutuhan Akan Broadband Internet

Layanan mobile internet menawarkan kemampuan melakukan hubungan internet secara broadband. Broadband internet ini memiliki prospek yang menjanjikan, mengingat banyaknya pengguna internet di tanah air. Broadband internet memberikan kepada para pengguna kapasitas jaringan yang semakin cepat. Mengingat kapasitas jaringan internet di Indonesia saat ini masih tergolong narrowband., keuntungan komparatif dari broadband internet ini tidak dapat dipungkiri.

Sejumlah operator telekomunikasi telah mengimplementasikan teknologi HSPDA yang memungkinkan tersedianya layanan mobile internet. Apabila para operator mampu menyediakan mobile internet untuk jangkauan area yang luas ditambah dengan kinerja jaringan yang handal, layanan mobile internet ini sangat potensial menarik minat masyarakat pengguna internet.

Sekarang tinggal masalah keseriusan pihak operator telekomunikasi seluler untuk memasarkan teknologi HSPDA. Terus terang saja, sampai saat ini promosi untuk layanan mobile internet belum cukup gencar, apalagi jika dibandingkan dengan promosi yang dilakukan untuk layanan telepon tarif murah. Sosialisasi perlu dilakukan dengan lebih gencar untuk menunjukkan kepada masyarakat keunggulan broadband internet dibandingkan dengan internet konvensional. Hanya dengan promosi yang lebih seriuslah layanan mobile internet dapat menjadi layanan andalan operator telekomunikasi seluler di Indonesia.

Video call dan Mobile TV : Masih Butuh Sosialisasi

Mungkin bagi banyak orang 3G identik dengan layanan video call, akibat promosi 3G yang dilakukan pihak operator cenderung menjadikan layanan video call sebagai feature andalan. Sayangnya, ternyata kemunculan layanan video call ini ternyata terjadi di saat yang salah.

Hubungan telepon tarif murah menjadi perhatian utama industri seluler satu tahun belakangan ini. Layanan video call yang berada di posisi berseberangan gagal mendapatkan perhatian yang layak. Pasar terbukti lebih.memilih murahnya hubungan telepon seluler daripada kecanggihan layanan video call.

Layanan mobile TV juga menghadapi kendala dalam hal pemasarannya. Sampai saat ini, masih sulit diraba format layanan mobile TV seperti apa yang dapat populer di masyarakat. Rasanya masih dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan strategi yang tepat untuk memasarkan layanan mobile TV ini.

Kesimpulan, dalam waktu dekat ini sepertinya pihak operator belum bisa mengharapkan keuntungan dari layanan video call dan mobile TV. Akan lebih bijak kiranya  jika pihak operator lebih berkonsentrasi pada layanan video streaming dan mobil internet.

Penutup

Tersendatnya penerimaan pasar akan layanan-layanan berbasis 3G tetap ada hikmahnya.

Para operator telekomunikasi seluler dapat belajar dari kegagalan-kegagalan sebelumnya dan menyusun strategi baru, memanfaatkan umpan balik dari kegagalan saat ini. Pada prinsipnya, pasar telekomunikasi seluler adalah sesuatu yang dinamis dan selalu berubah. Kecanggihan teknologi selalu potensial menjadi hal yang menarik perhatian luar dari masyarakat. Secara pribadi, penulis tetap optimis akan masa depan teknologi 3G di Indonesia.