Dari Malam Final Putri Indonesia 2007
Terlepas dari Pro dan kontra selalu menyertai ajang beauty pageant seperti Putri Indonesia 2007 ini, sekali ini aku memutuskan untuk datang menonton langsung malam final yang diadakan di Jakarta Convention Centre. Ada alasan yang kuat untuk menyaksikan langsung acara ini kendati tiket masuknya tidak murah, Rp 125.000 rupiah per orang. Salah satu finalis yang akan bersaing dalam kompetisi ini adalah keluarga dekatku.
Sepupuku itu biasa kupanggil dengan sebutan “Comel”, panggilan yang sebenarnya tidak disukainya. Mungkin sekali dia menganggap “comel” itu berarti “nyinyir”. Sebenarnya kata itu diambil dari bahasa Malaysia, dimana “comel” berarti “cute“. Seorang perempuan dengan kecerdasan yang membanggakan (menilik dari kemampuan menyelesaikan soal matematika di masa try-out UMPTN dulunya, she is definitely top class).
Agak meleset dari perkiraan, ternyata acara ini menarik cukup banyak perhatian khalayak untuk menyaksikan langsung di Jakarta Convention Centre. Dilihat dari penampilan dan cara berpakaian, rata-rata para pengunjung ini adalah kalangan menengah keatas. Selain keluarga para finalis dan para undangan, banyak diantara para pengunjung adalah perempuan muda berpenampilan menarik, yang mungkin berniat mengikuti perlombaan putri Indonesia ini suatu saat nanti. Mencoba pendekatan pada para wanita cantik ini? Definitely no chance, karena biasanya mereka datang berombongan beramai-ramai untuk mendukung seorang kontestan, atau mungkin didampingi oleh “monyet” sebagai pengawal.
Dan acarapun dimulai. Seluruh tiga puluhan kontestan memasuki ruangan dan tampil di panggung didepan para penonton, dewan juri, dan pemirsa televisi yang menyaksikan acara yang disiarkan langsung oleh salah satu statiun televisi swasta ini. Masih terlalu banyak peserta diatas panggung, menyulitkan untuk menilai penampilan mereka satu persatu. Sebelum acara ini dimulai, sebenarnya juri telah menetapkan finalis-finalis mana yang akan melaju ke babak selanjutnya, yaitu babak 10 besar. Tetapi saat itu aku belum mengetahui, apakah Comel akan lolos ke babak selanjutnya?
Hubunganku dengan Comel? Sepertinya tidak akrab-akrab amat, tapi kalau dibilang jauh sih tidak juga. Sebenarnya sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengan Comel, sebelum dikagetkan dengan berita tampilnya dirinya di babak final putri Indonesia ini. Saat itu, karena jarak bangku penonton ke panggung cukup jauh dan banyaknya peserta diatas panggung, aku kesulitan mencari-cari sosoknya…
Di malam final ini para finalis sering sekali berganti kostum. Setiap kontestan mungkin harus mengenakan empat atau lima kostum berbeda malam itu. Untuk mengisi waktu dan menghibur para penonton selama para kontestan tidak ada di panggung, sejumlah artis disertakan untuk menampilkan live performance. Sebut saja nama Yovie Widianto orchestra, Ungu, Agnes Monica, Gita Gutawa, Adisiti dan Christopher Abimanyu.
Dari sekian banyak artis dan musisi yang tampil tersebut, Ungu adalah yang paling kurang beruntung. Berkali-kali sound system mengalami masalah sehingga menyebabkan performa panggung mereka tidak optimal. Gangguan serupa itu tidak terjadi pada Agnes Monica dan Gita Gutawa, yang malam berusaha berusaha membawa atmosfer girlie kempanggung.
Babak 10 Besar
Kembali ke kompetisi putri Indonesia 2007, para finalis yang lolos ke 10 besar dumumkan. Ternyata Comel melaju dengan gemilang ke babak ini. Dengan hanya sepuluh kontestan yang perlu diperhatikan, aku jadi bisa mengamati dengan lebih seksama. Agak ajaib juga menyaksikan adik sepupuku yang terkadang mengeluhkan kejangkungannnya, ditengah para finalis lain yang rata-rata memiliki postur lebih tinggi dibanding dirinya. Sejumlah kontestan sepertinya rajin merawat tubuh demi penampilan fisiknya. Mungkin ada diantara para kontestan ini yang memang berprofesi sebagai model…
Di babak sepuluh besar ini masing-masing para kontestan harus menghadapi sebuah pertanyaan dari dewan juri. Secara bergiliran para peserta mendengarkan pertanyaan yang dibacakan pembawa acara Nadia Mulya dan Ferdi Hasan. Didepan kamera televisi dan disiarkan langsung ke seluruh Indonesia, para peserta menjawab pertanyaan yang diajukan. Sebuah ujian untuk kecerdasan, penampilan, ketenangan dan artikulasi.
Suli untuk menentukan siapa yang akan lolos ke babak lima besar kalah hanya mendasarkan pada jawaban para peserta. Rata-rata kontestan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan bagus. Mungkin mereka sudah lebih dulu diberitahu materi yang mungkin ditanyakan, sehingga dapat mempersiapkan diri. Kelima finalis yang akhirnya melaju ke babak lima besar rata-rata tampil tenang di layar kaca, dengan artikulai yang tidak jauh dari level seorang penyiar televisi.
Dan Comel? Haven’t I told you that she is a brainy girl? Comel menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dengan tangkas. Dimulai saat acara dihentikan untuk commercial break, Ferdi Hasan memberikan sebuah pertanyaan tidak resmi pada comel (something line, “tell me about the province you are from?”). Jawaban yang diberikan Comel sebenarnya cukup bagus dan menjanjikan, tapi artikulasinya…her voice was somewhat shaking. She should have done better. Memamng pertanyaan ini tidak resmi, tetapi diajukan diatas panggung dan didepan dewan juri, jadi mungkin sekali mempengaruhi penilaian.
Tak lama kemudian kembali on air, Ferdi Hasan dan Nadia Mulya mengajukan “pertanyaan resmi” untuk perlombaan ini, kali ini didepan sorotan kamera televisi dan disiarkan ke seluruh Indonesia. Kali ini Comel ternyata bisa menjawab dengan artikulasi yang lebih baik. And that makes me wonder. She seems to so much enjoy being broadcasted on a nationwide TV
.
Selanjutnya, lima besar terpilih dan Comel tidak termasuk diantaranya. Anyway, I’ve got to say to her, that she did it well. I’m quite sure that walking on stage is one that she had mastered earlier. After all, aku yakin banyak yang telah dia pelajari selama sekitar 10 hari karantika putri Indonesia di hotel Nikko, terutama tentang penampilan dan komunikasi.
And the Winner is…
Berlanjut ke babak selanjutnya, aku tidak begitu yakin metoda penilaiian apa yang dilakukan di babak lima besar. Sepertinya kelima peserta hanya berdiri diatas panggung dan mungkin berbincang-bincang dengan juri. Apapun itu, dewan juri akhirnya memutuskan tiga finalis di babak pamugkas yaitu Duma Riris Silalahi dari Sumatera Utara, Putri Resmawati (Jawa Timur) dan Ika Fiyonda Putri (DKI Jakarta 4).
Di babak terakhir ini ketiga peserta harus menghadapi sebuah pertanyaan yang sama untuk mereka bertiga. Pertanyaannya sendiri cukup sederhana, kira-kira seperti ini, “Menurut anda apakah yang disebut pahlawan, dan apakah yang disebut dengan pengecut itu.”
Duma Riris Silalahi pada kesempatan pertama bereaksi layaknya jawaban anak sekolah yang menghadapai ujian essay pada ujian kenaikan kelas. Something like, “Pahlawan adalah orang yang berjuang demi rakyatnya, bla, bla, bla… pengecut adalah pihak yang melarikan diri, bla, bla bla…”. Jawaban yang tidak salah, hanya saja, anda juga mungkin akan menjawab kira-kira sama untuk pertanyaan seperti itu. Jawaban ini terlalu biasa dan kesan yang ditimbulkannya kurang kuat.
Putri Raesmawati pada giliran berikutnya menjawab dengan mantap, “Pahlawan mati sekali, pengecut mati berkali-kali”. Jawaban ini mungkin tidak lebih benar daripada jawaban Duma Riris Silalahi tadi, tapi setidaknya jawaban ini mampu membuat juri dan penonton tertegun sejenak dan berpikir. That looks pretty convincing.
Ika Fiyonda Putri yang mendapat kesempatan terakhir, malangnya memberikan jawbana yang jelas salah. Ika menjawab bahwa pahlawan adalah orang yang yang sudah berusaha dan berhasil dalam usahanya, sedangkan pengecut adalah orang yang berusaha namun gagal dalam usahanya. Sebuah kesalahan fatal di babak penentuan, dilakukan oleh finalis yang disebut-sebut berwajah mirip dengan putri indonesia sebelumnya, Agni Pratistha.
Tentunya hasil akhirnya sudah anda ketahui. The newly-crowned Putri Indonesia is Putri Raesmawati. Duma Riris Silalahi menjadi runner-up dan Ika Fiyonda Putri sebagai runner-up kedua.