Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia

Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia

Tahun 2006 dunia telekomunikasi Indonesia memasuki sebuah tahapan baru. Pada tahun ini operator-operator selular berhasil mengimplementasikan teknologi 3G di Indonesia. Menyusul keberhasilan ini kita saksikan para operator tersebut berlomba untuk memperkenalkan teknologi 3G kepada masyarakat, misalnya melalui iklan pada media cetak atau media elektronik.

Teknologi 3G adalah sebuah terobosan dari teknologi telekomunikasi selular sebelumnya, yang mendukung layanan-layanan dengan berbasis media-media berikut ini:
1. Suara, misalnya pada percakapan telepon atau pada nada dering..
2. Teks, seperti pada SMS (Short Messaging Service).
3. Gambar, seperti pada wallpaper atau MMS (Multimedia Messaging Service).

Teknologi 3G memperkenalkan sebuah media baru, yaitu gambar bergerak plus suara. Teknologi ini memungkinkan kita menggunakan layar handphone atau PDA (Personal Digital Assistant) untuk menyaksikan siaran televisi atau menikmati rekaman video klip. Teknologi ini juga memungkinkan layanan video call, yaitu pembicaraan telepon yang para penggunanya dapat menyaksikan ekspresi wajah dan gerakan lawan bicaranya saat itu, yang ditampilkan pada layer handphone atau PDA yang digunakan.

Memasyarakatkan teknologi 3G kurang lebih berarti menjual manfaat teknologi 3G ini ke masyarakat. Mudah dimengerti bahwa pihak operator selular telah banyak menghabiskan dana untuk investasi teknologi 3G ini, mulai dari tahapan perencanaan, penelitian, perancangan, pengembangan, pengujian sampai akhirnya implementasi teknologi 3G itu dirilis. Dengan begitu, tantangan  berikutnya bagi para operator selular adalah bagaimana menjual layanan-layanan berbasis teknologi 3G ini ke masyarakat Indonesia.

Selanjutnya pada tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut mengenai kapabilitas teknologi 3G, sebelum meneruskan  membahas karakter konsumen Indonesia dan kemungkinan strategi pemasaran teknologi 3G.

Kapabilitas Teknologi 3G

Membahas teknologi 3G berarti membahas kapabilitas yang ditawarkannya. Sebagai komunikasi yang memungkinkan komunikasi media gambar bergerak beserta suara, teknologi 3G menawarkan berbagai fitur baru yang tidah dimiliki oleh teknologi-teknologi sebelumnya.

Diantara fasilitas yang ditawarkan teknologi 3G adalah layanan video call, yaitu hubungan komunikasi telepon yang memungkinkan pihak penelepon menatap ekspresi dan pergerakan lawan bicaranya saat itu di layar handphone atau PDA, dan begitu juga sebaliknya.

Teknologi 3G juga memungkinkan menyaksikan tayangan televisi langsung di layar handphone mereka. Hal ini memungkinkan pengguna menyaksikan acara favoritnya, baik itu sinetron, konser musik, drama, reality show ataupun siaran langsung olahraga secara mobile. Mobilitas ini adalah keunggulannya dari layanan TV konvensional. Pengguna dapat menyaksikan acara favoritnya di tengah kemacetan jalan raya, disaat listrik padam atau di tempat yang tanpa televisi, tentu saja selama ada sinyal komunikasi seluler.

Teknologi 3G menawarkan sebuah mobile-content baru, yaitu video klip. Yang dimaksud dengan video klip disini tidak terbatas pada video klip musik. Operator selular juga bias menawarkan klip momen olahraga, atau trailer film terbaru yang akan segera beredar di bioskop.

Manfaat lain yang tidak kalah penting dari teknologi 3G adalah peningkatan kecepatan layanan internet oleh operator selular. Logikanya, implementasi teknologi 3G dengan media gambar bergerak plus suara membutuhkan bandwidth yang lebih besar dibandingkan teknologi sebelumnya yang berbasis suara,gambar dan teks. Bandwidth yang lebih besar berarti jaringan yang lebih cepat, membuka peluang bagi operator selular untuk menawarkan layanan internet yang lebih cepat berkat teknologi 3G.

Meninjau Perilaku Konsumen Indonesia

Tak pelak lagi teknologi komunikasi selular adalah sebuah instrumen globalisasi. Teknologi ini telah tersebar ke seluruh dunia dan mempercepat arus komunikasi. Produk-produk handphone dan PDA dari seluruh penjuru dunia dapat ditemukan di Indonesia. Teknologi GSM maupun CDMA membawa sinyal komunikasi yang telah menembus batas-batas negara.

Tidak heran apabila ada yang menganggap perilaku konsumen telekomunikasi selular Indonesia adalah sama dengan perilaku konsumen global. Lihat saja acara televisi American Idol yang sangat digemari di Amerika, dengan metoda penilaiannya ditentukan oleh banyaknya SMS dukungan yang diterima oleh masing-masing peserta. Acara ini sukses diadopsi menjadi Indonesian Idol yang juga digemari pemirsa televisi Indonesia.

Namun hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Sebagai ilustrasi, jika di Amerika Serikat Palm Treo adalah produk PDA yang popular, di Indonesia popularitas Palm Treo kalah jauh dari Nokia Communicator. Kesuksesan Blackberry dengan fasilitas push e-mail baru-baru ini ternyata kurang bergaung di Indonesia. Dengan demikian berarti konsumen Indonesia memiliki preferensi dan standar penilaian sendiri.

Namun begitu, ketika operator yang berupaya menjual teknologi 3G ke pasar Indonesia,harus selalu menitikberatkan pada karakter masyarakat Indonesia yang menjadi konsumen. Perhatikan kasus berikut ini. Seperti kita ketahui masyarakat Indonesia cenderung tidak antusias membeli rekaman musik, baik CD maupun kaset. Alasannya adalah maraknya pembajakan yang berakibat mudahnya memperoleh CD bajakan atau file mp3. Namun menariknya, CD bajakan atau file mp3 tersebut ternyata tidak mampu menghalangi minat masyarakat Indonesia untuk membeli nada dering lagu-lagu yang sedang popular. Disinyalir pihak operator dapat meraup nilai penjualan milyaran rupiah untuk setiap nada dering lagu yang populer, untuk saat ini misalnya lagu berjudul “SMS” dari Trio Macan atau “Jablai” dari Titi Kamal.

Strategi Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia

Pada saat ini para operator telah mulai memperkenalkan teknologi 3G ke masyarakat, terutama berupa iklan di media cetak ataupun media elektronik. Ada dua pesan yang disampaikan disini. Pesan pertama adalah menginformasikan kepada masyarakat bahwa operator tersebut telah mampu mengimplementasikan teknologi 3G. Pesan lainnya adalah tentang kapabilitas yang ditawarkan oleh teknologi 3G tersebut.

Saat ini bisa dikatakan kita masih berada pada tahapan pertama dari sosialisasi teknologi 3G ke masyarakat, yaitu memperkenalkan teknologi 3G secara umum. Tak lama lagi pihak operator harus memasuki tahapan selanjutnya, yaitu secara spesifik menawarkan layanan-layanan berbasis teknologi 3G ke masyarakat.
Sebelum mulai menjual layanan berbasis 3G ke masyarakat, pihak operator harus lebih dulu memastikan infrastruktur yang dimilikinya memadai untuk sebuah layanan  berbasis 3G yang berkualitas. Teknologi 3G membutuhkan kapasitas yang lebih baik dari teknologi-teknologi sebelumnya. Sebagai contoh, bandwidth yang dibutuhkan untuk video call jelas akan lebih besar dibandingkan bandwidth untuk hubungan telepon biasa. Operator juga harus mampu menjaga kinerja layanan 3G seiring peningkatan jumlah pelanggan dengan bertambahnya pelanggan baru. Pihak operator juga harus mengantisipasi kondisi puncak penggunaan layanan 3G, misalnya pada peringatan hari-hari besar keagamaan. Bagaimanapun juga, citra dari sebuah operator akan sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan-layanan yang ditawarkannya.

Sekarang kita bahas alasan konsumen Indonesia untuk membelanjakan uangnya demi sebuah layanan seluler. Menurut hemat penulis ada empat alasan yang dapat dikemukakan, yaitu :
1. Kebutuhan .
2. Nilai tambah.
3. Gaya hidup.
4. Hobi.

Strategi 1 : Membidik Kebutuhan Konsumen

Ada saat dimana teknologi 3G bisa menjadi sebuah kebutuhan. Sebagai ilustrasi kita akan fokuskan bagian ini untuk layanan voice call. Layanan ini memiliki kelebihan dari hubungan telepon biasa, yaitu pihak penelepon dapat melihat ekpresi dan pergerakan lawan bicaranya saat itu melalui layar handphone atau PDA, dan begitu juga sebaliknya. Meskipun saat ini kita bisa menemukan layanan sejenis pada aplikasi seperti Yahoo! Messenger misalnya, voice call berbasis teknologi 3G tetap memiliki keunggulan karena sifatnya yang mobile, dapat dilakukan dimana saja selama ada sinyal komunikasi seluler.

Tidak sulit menebak konsumen potensial untuk layanan voice call ini, misalnya orang tua yang ingin menghubungi puteranya yang kuliah di negara lain, atau sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Karena itu hal berikutnya yang harus dilakukan adalah mengkomunikasikan layanan video call berbasis 3G ini pada para konsumen potensial. Rasanya tidak ada pendekatan yang lebih efektif daripada iklan pada media cetak dan elektronik. Misalnya seperti pada  ilustrasi iklan dibawah ini.

Iklan 1

Mahasiswa A sedang menelepon temannya, yaitu mahasiswa B. Hubungan telepon ini dilakukan dengan video call berbasis teknologi 3G.

Mahasiswa A  : Halo
Mahasiswa B  : Halo, hey, dari mana aja, man? Kenapa nggak pernah kelihatan di kampus? Kayaknya kamu itu jarang kuliah deh. Kapan bisa lulusnya?
Mahasiswa A  : Males. Aku nggak semangat kuliah nih. Kayaknya kok tidak ada yang menarik ya di kampus. Bosan man, bosan.
Mahasiswa B  : Jangan begitu, tidak baik lho bolos kuliah terus. Eh, tunggu sebentar ya

Seorang mahasiswi cantik berjalan kearah mahasiswa B lalu bercakap-cakap dengannya selama beberapa saat. Mahasiswa A terkesima menatap kecantikan mahasiswi tersebut di layar handphone miliknya. Beberapa saat kemudian si mahasiswa cantik tersebut berjalan meningggalkan mahasiswa B.

Mahasiswa A : Eh, siapa tuh tadi? Manis juga. Temanmu ya? Kenalin aku dong…

Beberapa tahun kemudian, mahasiswa A dan si mahasiswi cantik terlihat sedang duduk berdampingan dengan pakaian wisuda kelulusan sarjana.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, merubah hidup anda.

Strategi 2 : Membidik Gaya Hidup

Tingkat konsumsi msyarakat Indonesia sepertinya paradoks dengan kondisi perekonomian negaranya. Dengan deraan krisis ekonomi sekitar delapan tahun terakhir, disusul dengan kenaikan harga BBM tahun lalu, ternyata tingkat konsumsi masyarakat Indonesia tetap tinggi.
Setidaknya begitulah fenomena yang terlihat di dunia telekomunikasi selular. Handphone dan PDA produksi terbaru laris di pasaran. Fasilitas-fasilitas yang ditawarkan seperti oleh produk-produk handphone dan PDA tersebut mulai menjadi ikon gaya hidup kota besar, mulai dari fasilitas kamera digital built-in sampai fasilitas wi-fi yang memungkinkan pengguna untuk melakukan koneksi ke jaringan internet pada kafe-kafe yang menyediakan fasilitas hot spot.
Karena trend dan gaya hidup merupakan peristiwa budaya, promosi 3G harus selalu memperhatikan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, dan rajin mencari celah yang bisa dimanfaatkan. Kita tutup uraian ini dengan ilustrasi sebuah iklan.

Iklan 2

Seorang gadis baru keluar dari sebuah kelas kuliah, kemudian seorang pemuda berjalan menghampirinya, tanpa bicara memberikan PDA miliknya pada gadis itu, kemudian berlalu.

Si gadis, mengaktifkan PDA tersebut, ada sebuah memo bertuliskan "I love the way you look". Si gadis tersenyum, penasaran, lalu menjelajahi PDA tersebut, dan menemukan bahwa si pemuda tadi diam-diam telah mengambil fotonya dengan PDA itu pada banyak kesempatan.

Si gadis bersiap melangkah ketika seorang pemuda lain menghampirinya. Sama seperti pemuda pertama, tanpa bicara memberikan PDA miliknya pada gadis itu, kemudian berlalu.

Si gadis, mengaktifkan PDA tersebut, ada sebuah memo bertuliskan "I love the way you move, I love way you talk, and I love the way you walk". Si gadis kembali tersenyum penasaran, lalu menjelajahi PDA tersebut, dan menemukan bahwa si pemuda tadi telah mengambil diam-diam merekam semua kegiatannya dengan PDA tersebut dengan video recording, lalu di-upload di sebuah situs internet. Berkat teknologi 3G, semua video klip tersebut dapat disaksikan kembali dari situs tersebut.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, selangkah lebih maju.

Strategi 3 : Mempromosikan Nilai Tambah

Layanan berbasis 3G umumnya memiliki keunggulan dibanding layanan yang sejenis atau mirip. Layanan video call misalnya memiliki keunggulan dibanding layanan telepon biasa, yaitu pihak penelepon dan yang ditelepon dapat saling menatap ekpresi wajah dan gerakan lawan bicaranya. Aplikasi seperti Yahoo! messenger juga menawarkan layanan video call, namun tanpa disertai mobilitas seperti pada video call berbasis 3G.
Contoh lainnya adalah mobile TV. Kekurangannya langsung terlihat kentara, yaitu resolusi layarnya yang jauh dibawah umumnya layar televisi. Namun demikian keunggulan mobile TV berbasis 3G dalam hal mobilitas tetap tak terbantahkan. Acara TV berbasis 3G dapat dinikmati di layar handphone atau PDA ditengah kemacetan jalan raya, saat antri di supermarket, dan dimana saja selama ada sinyal komunikasi seluler yang memadai.
Dengan pendekatan yang tepat,  nilai tambah yang dimiliki aplikasi 3G dapat digunakan  untuk kepentingan promosi, misalnya pada contoh iklan berikut.

Iklan 3

Setting : layar televisi dibagi dua, sisi kiri dan sisi kanan. Di sisi kiri pemuda A sedang asyik menonton siaran langsung sepakbola di televisi rumahnya, demikian juga halnya dengan di sisi kanan pemuda B sedang asyik menonton siaran langsung sepakbola di televisi rumahnya,

Tiba-tiba terjadi pemadaman listrik. Pemuda A dengan mengggerutu menyalakan lilin untuk penerangan di rumahnya, lalu duduk dengan wajah jengkel…

Tiba-tiba terdengar sorakan dari rumah pemuda B, "gooooooolllll". Ternyata pemuda B tetap melanjutkan menonton siaran langsung sepakbola itu melalui layanan 3G di layar PDA miliknya.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, Bring More Options

Strategi 4 : Membidik Hobi Konsumen

Perkembangan teknologi informasi telah mempermudah orang-orang yang memiliki hobi dan kegemaran serupa untuk membentuk komunitas. Berbagai komunitas dapat kita temui saat ini di dunia virtual, mulai dari komunitas peminat pasar modal, komunitas penggemar masak-memasak, komunitas penyuka komik lokal, dan banyak lagi yang lainnya. Bukan hal yang aneh apabila anggota komunitas seperti ini banyak yang siap membelanjakan uangnya demi hobi kegemaran mereka itu. Hal ini menjadikan mereka pasar yang potensial bagi teknologi 3G. Prospek paling bagus sepertinya ada pada komunitas penggemar olahraga, komunitas penggemar musik dan komunitas penggemar film.
Teknologi 3G menawarkan berbagai hal pada para penggemar olahraga, termasuk siaran langsung pertandingan olahraga dengan mobile TV tentunya. Penggemar sepakbola liga Inggris misalnya mungkin akan tertarik pada video klip rekaman gol-gol yang terjadi pekan ini di liga Inggris. Dapat juga ditawarkan momen-momen klasik olahraga, misalnya video klip rekaman gol-gol terindah sepanjang masa.

Nada dering adalah layanan yang populer saat ini bagi masyarakat pecinta musik Indonesia. Para penggemar musik ini cukup giat melengkapi koleksinya dengan nada dering lagu yang saat ini populer. Nada dering sepertinya sudah dianggap sebagai  ekspresi pribadi, yang sedikit banyak mewakili citra diri pemiliknya. Pihak operator dapat mencoba menawarkan layanan video klip lagu terbaru bagi para penggemar musik ini, mengingat tampilan visual pada video klip selama ini telah menjadi daya tarik tersendiri dan sangat membantu promosi album rekaman yang bersangkutan.

Komunitas penggemar film adalah juga sebuah pasar yang potensial. Maraknya pembajakan film dalam bentuk CD dan DVD bajakan sejauh ini tidaklah membuat bioskop menjadi sepi. Bagaimanapun juga sensasi menonton di bioskop tetap lebih memuatkan daripada menonton film bersangkutan di layar televisi.  Pihak operator dapat bekerjasama dengan pihak distributor film asing ataupun film Indonesia untuk mempromosikan trailer dari film-film yang sedang atau akan beredar di bioskop.

Iklan 4

Chris John, Juara dunia tinju kelas bulu versi WBA sedang bertarung sengit dengan penantangnya. Beberapa saat kemudian Chris John mnyelesaikan pertandingan dengan serangkaian pukulan yang memukul jatuh lawannya hingga KO.

Pada adegan berikutnya di sebuah sasana tinju seorang pelatih memperlihatkan video rekaman rangkaian pukulan kemenangan tersebut di layar PDA pada para petinju asuhannya, yang menyaksikannya dengan terkagum-kagum. Video klip tersebut tersedia berkat teknologi 3G.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, Untuk Momen Kemenangan

Penutup

Kesuksesan para operator seluler di Indonesia untuk mengimplementasikan teknologi 3G akan menjadi mubazir apabila layanan-layanan berbasis 3G gagal dipasarkan ke masyarakat. Keberhasilan para operator selular memasyarakatkan teknologi 3G di Indonesia akan tergantung pada kejelian mereka menganalisa pasar dan membidik celah-celah yang bisa ditembus. Mengingat karakter masyarakat Indonesia selama ini, konsumen akan menyambut teknologi 3G apabila teknologi ini mampu mendukung layanan-layanan yang berhasil menarik perhatian mereka. Kita tunggu bersama gaung berikutnya dari teknologi 3G di Indonesia.

7 Responses to “Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia”

  1. nowo Says:

    i love the way you write! - two steps ahead or one step back?

  2. Wirotomo Says:

    Oh ini tho artikel yang menang itu, Jod. Boljug … apalagi ilustrasi iklannya … tapi kok kebanyakan merujuk ke fasilitas video calling aja sih, apa memang itu aja ya yg ditawarkan 3G yang menarik minat orang Indonesia??? … Mungkin juga sih ya, orang Indonesia kan memang suka pamer … ya kaya’ temanmu ini :-)
    Btw udah berapa tahun berteman denganku kok masih aja sih nulis kata yang salah di artikelmu itu. Kata “merubah” … kata apa itu?!
    Yang benar kan “mengubah”, karena kata dasarnya “ubah” bukan “rubah” … memangnya yg kamu omongin rase atau fox itu ??? hehehe …..

    Tapi bagaimanapun kamu memang bakat nulis Jod … Terus dipupuk ya, biar makin jago, sehingga bisa dapat extra income. Biar lebih banyak yg minat….. hahaha

  3. Ari Lestari Says:

    Bagus artikelnya Jod.. Selamat yach.. Bener seperti yang disebut wirotomo, Aku melihat perkembangan 3G di Indo lebih karena “gaya hidup”. Aku lihat di sini banyak orang tidak mau membayar lebih untuk beberapa nilai tambah (value added services)yang tidak bermanfaat buat dia, selain untuk sms dan “mobile”. Mungkin segment di Indonesia juga untuk kalangan menengah ke atas…:)

  4. ' ' 'Ujie' ' ' Says:

    teknologi 3G merupakan langkah maju bagi perkembangan telekomunikasi di indonesia…
    but..,unfortunately…until i post this comment..
    3G blom sedikitpun menyentuh kota jie tercinta neh…
    brarti…perkembangan yang canggih itu,blom sepenuhnya tercicipi oleh sebagian besar penduduk indo…
    nUnggu mpe kapan yah??!

  5. Bernard Says:

    Hidup Jodhi !
    Bakat terpendam loe oke banget Jod, dari penulis naskah scenario operet company gathering sampe 3G.
    Jod, pesen gue, nanti kalo udah jadi komentator/penulis terkenal, tetep pakai hati nurani yah.

  6. emo boy Says:

    Thank you for your site ;-) I made on photoshop backgrounds for youtube, myspace and ect..
    my backgrounds:http://tinyurl.com/6rbxmr
    have a great day and thank you again!

  7. Mittu Says:

    Blogwalking ..
    nice posting i found here,.. thanks for the info

Leave a Reply