Incorporating C Codes into Symbian Projects

May 9th, 2008 by jdk

Symbian developers are not too many to find, especially in Indonesia. The community is perhaps bigger at some other countries, but it is still so little compared to desktop-based programming communities. We can view the desktop-based programming communities as the mainstream communities, which are way more mature than the Symbian programming community.

If you are a professional Symbian mobile application developer, there may come occasions when you got to integrate some C-based source codes into your application. Chances are when your supervisor ask you to handle features that Symbian OS currently not support. You and your team may need a considerable amount of time to implement these features on your own : researching, developing, testing, debugging, etc, while your boss wants you to finish the job A.S.A.P. Now, take a broader view, consider that those features are not exactly brand new, as other programmers have already developed them on some open-source platforms. So, perhaps the wisest choice would be to integrate these open-source codes with your Symbian application.

It would be no surprise if you find these source codes are written in C. On lower-level programming where efficiency and being compact are key factors, you can always consider writing in C as a good choice. There are no guarantee that you can run these C codes in your Symbian-based handphone anyway, but I’m sure that most of them will fit your need.

Now, let’s speak about the technical part. I would recommend to place the C source and header files in different directory than the rest of your application files. Perhaps you can write a new directory at your application’s src directory to place your source files and another new directory  at your application’s inc directory for the corresponding header files.

Symbian supports library of C functions that may be used. However you’ve got to realize that the headers for these libraries are not placed the default system include directory i.e \epoc32\include, as they are placed at \epoc32\include\libc.

To call the C-code functions you have to inform the compiler that you’re invoking C codes. As a result, you will have to include the C header files a little bit differently,
something like this:

extern "C" {
#include "basic.h"
#include "encrypt.h"
#include "decrypt.h"
}

The last but not the least, You may need to link against estlib.lib, the Symbian C standard library. Otherwise, you will find error messages such as undefined reference to `malloc’ or undefined reference to `free’.

Rancak//Overlow

November 1st, 2007 by jdk

Entah kenapa, aku jarang sekali duduk bersebelahan dengan wanita cantik di pesawat. Memang hal ini sama sekali tidak penting, apalagi jelas tidak mungkin untuk meminta kepada pihak tours & travel untuk menempatanku di kursi yang bersebelahan dengan perempuan berpenampilan menarik. Tapi siapa sih yang akan keberatan didampingi oleh seorang wanita cantik dalam masa penerbangan? Lihat saja para pramugari yang rata-rata adalah perempuan berpenampilan menarik.

Pernah sih suatu saat di pesawat Malaysia Airlines aku beruntung ditempatkan bersebelahan dengan seorang cewek bule yang definitely good looking. sayangnya, belum sempat aku mengucapkan suatu kalimatpun, dia sudah memotong lebih dulu, “Hi, do you speak English. Can you kindly please switch your seat with my husband there“, katanya menunjuk pada seorang pria bule di sebuah kursi yang berjauhan di pesawat itu. “He’s definitely unhappy about us having to flight on separate places“. Sama sekali tidak ada alasan untuk menolak permintaan seperti itu.

Hingga akhirnya kesempatan terbang bersebelahan dengan wanita cantik terjadi jadi ketika aku berangkat mudik lebaran tahun ini dengan pesawat dari Jakarta ke Padang. Perempuan ini sepertinya agak terlambat datang untuk check out, sehingga datang terburu-buru dengan langkah-langkah cepat ke tempat duduknya. Kesan terburu-buru masih tetap melekat saat dia meletakkan barang-barangnya dan bergegas mengenakan sabuk pengaman, karena pesawat akan segera take off.

Rasanya sulit bagi siapapun untuk membantah kecantikan perempuan di sebelahku ini. Menilik raut wajahnya yang oriental, badannya yang tinggi semampai, kulitnya yang sangat terawat, hingga cara berpakaiannya yang berkelas, sepertinya dia bukanlah orang sembarangan. Apakah dia adalah seorang pengusaha sukses yang sedang melakukan investasi di Padang? Atau mungkinkah seorang selebriti yang belum begitu terkenal sehingga wajahnya belum begitu familiar.

Jangan berpikir kalau aku lalu jadi tertarik untuk mengejar perempuan ini. Sebagai seorang kolektor komik, aku sangat akrab dengan metodenya Sun Tzu. Langkah pertama yang akan direkomendasikan Sun Tzu adalah : kalkulasi. Tidak perlu menjadi Einstein untuk tahu bahwa mengejar-ngejar wanita seperti ini bukanlah langkah yang bijaksana. She’s definitely out of my league. Yah, anggap saja kebetulan bisa terbang bersebelahan dengan seorang artis atau bintang film. Tidak perlu berpikir berlebihan.

Jujur saja, selama penerbangan tentu saja aku sebentar-sebentar menyempatkan melirik kearahnya. Cewe cakep banget geeto looooh. Apalagi kelakuannya terbilang tidak biasa. Sebelum pesawat take off misalnya seorang anak kecil berwajah oriental berlari kearahnya hanya untuk dimarahi, “get back there to your brothers“! Siapakah anak kecil itu? Anaknya? Kenapa pula harus dimarahi dalam bahasa Inggris? Semacam pendidikan bahasa Inggris sejak dini bagi anak-anak?

Hal ini terus berlanjut. Setiap kali pramugari atau petugas lainnya di pesawat mengajaknya bicara dengan bahasa Indonesia, mulai dari sekedar mengingatkan untuk mengencangkan sabuk pengaman hingga menawarkan makanan, perempuan di sebelahku ini selalu menjawabnya bahasa Inggris. Asumsiku tentang dirinyapun berubah. Mungkin wanita ini memang adalah seorang warga negara asing, walaupun kalau dilihat dari wajahnya siapapun akan menyangka kalau dirinya adalah warga negara Indonesia. Dari negara manakah dia berasal? Aku sudah bertemu dengan banyak orang asing, tapi aksen yang digunakan oleh perempuan ini sama sekali tidak familiar. Bahasa Inggrisnya terlalu bagus untuk seorang warga Singapura pada umumnya, misalnya.

Segera terlihat bahwa perempuan ini adalah seorang wanita karir yang sibuk. Begitu pesawat selesai take off, dia langsung mengambil komputer laptop dan bekerja dengan sibuknya. Urusannya pastilah sangat mendesak sehingga dia tidak bisa membuang-buang waktu perjalanan ini yang sebenarnya hanya sekitar dua jam. Segera dia asyik dengan pekerjaannya, memeriksa email dan membuka beberapa file berformat Microsoft Excel. Aku yang makin penasaran sebentar-sebentar melirik laptopnya, mencari petunjuk tentang identitas sebenarnya dari wanita dirinya.

Dua jam hampir berlalu dan pesawat mulai mendarat. Rasa ingin tahuku semakin besar sehingga aku memutuskan untuk langsung bertanya saja pada perempuan di sebelahku ini. Yah, daripada penasaran terus-menerus. Lagipula aku cukup percaya diri pada kemampuanku berbahasa Inggris.

Hi, can I ask You something? You look like an Indonesian but You are definitely not. Where are You from?” pertanyaanku itu akhirnya memecahkan kebuntuan komunkasi yang sejak tadi terjadi diantara kami.

Yes, actually I am half-Indonesian. My father is a Philipino and my mother is an Indonesian. I am an indonesian citizen

You are an Indonesian citizen and You cannot speak the Indonesian language?”

Well, You see, I grew up at Philipina and studied at Australia. Besides, my mother never taught me too much of Indonesian language either.”

I see. What are You doing here in Padang anyway? Are You here for business?

Jawaban yang kudapat cukup mengejutkan.

No, I’m here on Iedul Fitri holiday. You know what, I’m a moslem. My whole family come to Padang every year to celebrate Iedul Fitri holiday at my grandma’s house.”

You gotta be kidding me

No, my grandma lives here at Padang. The mother of my mother

Perkembangan yang cukup menarik. Perempuan rancak yang eksotis ini ternyata adalah urang awak juga.

How did you father met you mother.”

They met while they’re both on vacation to Bali.”

Jadi ternyata demikianlah halnya. Wanita ini adalah seorang blasteran Philipina-Indonesia yang datang ke Padang untuk merayakan Iedul Fitri bersama keluarganya. Hal yang tidak kusangka-sangka sebelumnya.

Are You gonna be here for long?”

No, I’ll only be here for two days. I don’t like Padang. It’s too hot.

Tell me about it. I grew up here.

Padang is way too hot. The thing is I have to go here every year. I have no choices.

Bagi yang penasaran dengan urang awak berwajah oriental yang rancak ini, dia bekerja untuk perusahaan minyak ExxonMobil, yang mengharuskannya selalu bolak balik setiap beberapa hari dari Australia ke Jakarta.

What is your name?

My name is Chantal.

Chantal? Like Chantal Kreviazuk?

Yes, like Chantal Kreviazuk

——————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

Dua minggu kemudian, dalam perjalananan pulang aku kembali duduk bersebelahan dengan seorang warga negara asing, yang sayangnya kali ini adalah seorang pria. Sama sekali tidak ada niat untuk berbincang dengannya.

Memasarkan 3G, Diantara Perang Tarif Murah

October 11th, 2007 by jdk

Sudah setahun berlalu sejak operator-operator seluler indonesia mengimplementasikan teknologi 3G. Sebagai sebuah teknologi yang menandai generasi berikutnya yang lebih mutakhir dalam perkembangan teknologi seluler, kehadiran teknologi 3G diharapkan memberikan warna baru dalam dunia telekomunikasi seluler Indonesia. Dengan berbagai kelebihan yang ditawarkannya, layanan-layanan 3G diharapkan dapat diterima dengan baik oleh pasar Indonesia.

Kenyataanya, masyarakat tidak menyambut teknologi 3G dengan gegap gempita. Perhatian khalayak lebih banyak tercurah pada tarif murah yang ditawarkan oleh operator-operator telekomunikasi, untuk hubungan telepon maupun sms. Segera masyarakat terpukau oleh telekomunikasi berharga murah yang ditawarkan. Saat ini anda bisa menggunakan handphone untuk berlama-lama menelepon, tanpa perlu khawatir biayanya akan mengganggu keuangan anda.

Tak pelak lagi, konsentrasi para operator-operator telekomunikasi selulerpun beralih untuk bersaing menyajikan layanan telepon dan sms yang semakin murah. Perang tarif tak bisa dihindari. Harus diakui bahwa telepon dan sms masih menjadi barang dagangan utama bagi para operator komunikasi seluler, sehingga mau tidak mau mereka harus berusaha menyajikan layanan telepon dan sms yang kompetitif, dalam segi kualitas ataupun harga.

Pertanyaannya, ditengah perang tarif murah ini, masihkah ada kemungkinan untuk memasarkan layanan-layanan berbasis 3G? Apakah investasi begitu besar yang telah dikeluarkan para operator telekomunikasi seluler untuk implementasi 3G hanya sia-sia belaka? Apakah masyarakat memang tidak membutuhkan teknologi 3G, ataukah layanan-layanan yang ada belum mampu menyentuh kebutuhan masyarakat?


Apakah 3G Masih Layak Jual?

Kegagalan 3G untuk menjadi segera menjadi fenomena dalam dunia telekomunikasi Indonesia tak ayal mencuatkan keraguan. Mungkinkah yang dibutuhkan masyarakat hanyalah telepon murah dan sms murah? Masihkah ada harapan yang bisa ditawarkan oleh layanan 3G?

Sebenarnya kurang bergemanya teknologi 3G di Indonesia tidak perlu membuat para operator telekomunikasi seluler berkecil hati. Sesungguhnya, hal ini adalah sebuah fenomena global. Di negara-negara lainpun teknologi 3G masih mencari dalam tahap mencari bentuk agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Tersedianya layanan-layanan berbasis 3G ternyata tidak membuat konsumen serta-merta merasa membutuhkannya. Masih butuh waktu bagi layanan-layanan berbasis 3G untuk dapat diterima secara luas oleh khalayak .

Karena itu tidak ada salahnya untuk melihat sisi positif dan tetap bersikap optimis. Ada sejumlah alasan bagi operator-operator telekomunikasi Indonesia untuk terus mengembangkan dan memasarkan layanan-layanan berbasis 3G.

1.      Tidak mungkin selamanya mengandalkan layanan telepon dan sms tarif murah.

Konsumen mungkin adalah pihak yang paling diuntungkan oleh perang tarif murah yang dilakukan para operator telekomunikasi seluler. Kegiatan menelepon dan mengirim sms sekarang dapat dilakukan tanpa perlu khawatir akan biaya yang dibutuhkan.

Namun, disisi lain, bagi para operator sendiri , apakah perang tarif ini menguntungkan? Jelas bahwa margin keuntungan yang didapatkan untuk setiap satuan waktu pembicaraan menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya. Dengan demikian tentunya keuntungan diharapkan datang dari meningkatnya volume pembicaraan dan sms. Logikanya, biaya komunikasi telepon seluler dan sms yang murah akan merangsang konsumen untuk makin sering memanfaatkan telepon seluler dan sms, dengan demikian keuntungan mengalir seiring meningkatnya volume pembicaraan telepon dan sms yang dilakukan masyarakat.

Namun begitu, suatu saat peningkatan volume pembicaraan telepon dan sms akan sampai pada sebuah titik stagnan. Suatu saat mungkin volume pembicaraan telepon dan sms masyarakat Indonesia akan sampai pada daya dukung maksimalnya. Disaat inilah para operator telekomunikasi seluler yang jumlahnya semakin banyak harus saling bersaing untuk memenangkan pangsa pasar yang terbatas. Agaknya, kondisi seperti ini tidak akan menjanjikan keuntungan yang begitu menggiurkan bagi para operator. Kesimpulannya, pihak operator harus memiliki sumber penghasilan andalan lainnya.

2.      Operator perlu mencari tambahan dari layanan-layanan value-added services (VAS), termasuk layanan-layanan VAS yang berbasis 3G

Seperti dipaparkan sebelumnya, pihak operator harus memiliki sumber penghasilan andalan selain dari pembicaraan telepon dan sms. Disini, layanan berbasis 3G harus mendapatkan perhatian serius dan menjadi prioritas. Operator harus jeli membaca kebutuhan masyarakat, dan menawarkan layanan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Lalu kenapa layanan-layanan berbasis 3G harus mendapatkan prioritas? Salah satu hal yang mendorong dinamika bisnis di dunia seluler adalah peluncuran produk-produk handphone terbaru. Masyarakat terbilang antusias dalam menyambut produk handphone keluaran terbaru. Lihat saja panjangnya antrian pada waktu peluncuran produk handphone Nokia E90 Communicator di pasaran.

Produk handphone terbaru saat ini, tentu saja mendukung teknologi 3G, yang merupakan teknologi state of the art dalam dunia seluler saat ini. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, peluncuran produk demi produk handphone mutakhir ini akan membantu proses edukasi pasar akan manfaat teknologi 3G ini. Proses edukasi pasar ini akan semakin efektif apabila pihak operator telekomunikasi seluler dapat mendukung dengan layanan-layanan 3G yang menarik minat msyarakat. Kerjasama antara pihak produsen handphone dengan pihak operator telekomunikasi seluler menjadi langkah strategis yang diperlukan untuk menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Membaca Pasar Telekomunikasi Indonesia

Sebelum berusaha merumuskan strategi pemasaran apa yang dapat diambil, ada baiknya kita melakukan brainstorming dulu dalam upaya membaca pasar telekomunikasi

Indonesia

.

Membaca Konvergensi Teknologi Informasi dan Seluler

Teknologi informasi dan teknologi seluler semakin lama semakin menunjukkan konvergensi. Data yang dulunya dibuat dan diedit di komputer, kini juga dapat dibuat dan diedit di handphone. Berbagai teknologi seperti infrared dan bluetooth mempermudah transfer data antara handphone dengan komputer. Jika tadinya handphone harus menggunakan WAP browser karena kualitas prosesor dan memori yang terbatas, saat ini prosesor dan memori handphone sudah mencukupi untuk menggunakan HTML browser, layaknya PC. Aplikasi-aplikasi yang tadinya dijalankan di komputer mulai memiliki varian yang bisa dijalankan di handphone. Jika dulu normalnya chatting dilakukan dari PC dan menelepon dilakukan dari handphone, saat ini bukan hal aneh jika seseorang melakukan chatting dari handphone dan menelepon dari PC.

Konvergensi teknologi informasi dengan dunia seluler ini memiliki konsekwensi lain yang signifikan. Bisa diasumsikan bahwa konsumen teknologi seluler biasanya adalah juga konsumen teknologi informasi. Kita dapat menyimpulkan bahwa pasar teknologi informasi dan pasar teknologi seluler memiliki irisan yang cukup besar.

Dalam usaha menemukan layanan 3G yang dapat diterima luas di masyarakat, patut dipertimbangkan untuk meninjau lebih jauh aplikasi yang populer dan trend yang ada di dunia teknologi informasi. Diantara aplikasi dan trend di dunia teknologi informasi tersebut, mungkin kita bisa menemukan aplikasi dan trend yang juga dapat diterapkan di dunia seluler, dalam bentuk layanan 3G. Karena sudah lebih dulu populer di dunia teknologi informasi, layanan-layanan 3G hasil konversi ini tentunya akan menghadapi resistensi yang lebih kecil dibandingkan layanan-layanan 3G yang baru sama sekali.


Menyikapi Kedatangan Wimax

Sementara pihak operator telekomunikasi seluler masih kesulitan memamasarkan layanan-layanan 3G, Wimax yang tergolong teknologi 4G yang satu generasi lebih canggih akan segera hadir di Indonesia, mungkin di tahun 2008. Tidakkah kehadiran Wimax ini akan menjadi ancaman bagi para operator penyedia layanan 3G? Bagaimanakah sebaiknya menyikapi kedatangan Wimax?

Sebagus apapun kemampuan Wimax, tetap tidak mudah untuk menembus pasar Indonesia dan menjaring konsumen. Tersendatnya teknologi 3G setahun belakangan ini jelas menunjukkan resistensi pasar yang cukup besar. Memposisikan Wimax sebagai saingan 3G rasanya tidak menguntungkan pihak manapun.

Kerjasama agaknya adalah solusi terbaik yang menjanjikan sinergi. Wimax dengan kapasitasnya yang besar dapat membantu meningkatkan performa layanan-layanan berbasis 3G. Di sisi lain, bagi pihak yang mengimplementasikan Wimax, bekerjasama dengan operator teknologi seluler yang telah memiliki jutaan pelangan adalah lebih baik daripada berusaha menjaring pelanggan sendiri dari awal.

Membidik Konsumen Eksklusif

Mungkin wajah umum konsumen telekomunikasi seluler Indonesia adalah konsumen telepon dan sms tarif murah. Namun begitu, sebenarnya di tanah air terdapat tipe konsumen lain yang lebih eksklusif dengan kemampuan ekonomi memadai. Antrian panjang pada peluncuran produk Nokia E90 communicator menjadi bukti yang sahih akan keberadaan para konsumen eksklusif ini. Mereka ini membelanjakan uang di dunia seluler mulai dari untuk memenuhi kebutuhan komunikasi, kepentingan bisnis hingga sekedar untuk gaya hidup.

Para konsumen eksklusif inilah seharusnya segmen pasar yang harus diincar layanan-layanan berbasis 3G. Operator telekomunikasi seluler harus mambangun citra layanan-layanan berbasis 3G sebagai sesuatu yang berkelas, eksklusif dan melambangkan gaya hidup. Penajaman segmen pasar yang hendak dibidik ini adalah faktor yang krusial.


Memasarkan Layanan 3G

Video streaming : Memanfaatkan Momen Sukses YouTube

YouTube adalah sebuah fenemena di dunia teknologi informasi. Situs ini memungkinkan para pengguna untuk melakukan upload terhadap video, dan kemudian video tersebut dapat dinikmati di seluruh dunia dengan teknologi video streaming. Berbagai hal dapat kita temukan disini, mulai dari rekaman video pribadi seperti upacara pernikahan, hingga group band yang berusaha mempromosikan diri. Begitu populernya YouTube sehingga berbagai situs serupa segera bermunculan di internet.

Teknologi video streaming juga telah merambah dunia seluler. Lihat saja Nokia yang telah mendukung video streaming sejak peluncuran produk handphone Nokia N95. Hal ini akan membuka ruang pemasaran baru di dunia seluler.

Video streaming sesungguhnya bukanlah hal yang rumit. Pihak penyedia layanan mengelola file-file video di server, kemudian pengguna melakukan upload dan memainkan rekaman video tersebut. Ini bukanlah hal yang sulit bagi operator telekomunikasi seluler yang telah mengimplementasikan teknologi HSPDA.

Masalahnya sekarang adalah mencari layanan-layanan yang tepat untuk ditawarkan kepada khalayak. Berikut adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa dipertimbangkan:

1.      Berita

Dalam hal berita, kebanyakan orang lebih menyukai bentuk visual daripada tektual. Operator seluler dapat menawarkan berita terkini ke masyarakat dalam bentuk video streaming. Pihak operator dapat bekerjasama dengan stasiun televisi untuk mendapatkan rekaman berita dari sumber terpercaya.

2.      Klip musik

Kesuksesan layanan nada dering menjadi alasan bagi operator untuk optimis akan penerimaan masyarakat akan layanan klip musik melalui video streaming. Pada dasarnya tampilan visual dari para artis musik adalah sesuatu yang diminati oleh para penggemarnya. Tinggal bagaimana mengelola potensi pasar ini sebaik baiknya.

3.      Momen olahraga

Para penggemar olahraga fanatik adalah potensi pasar yang besar. Lihak saja reaksi para penggemar liga Inggris saat acara kesayangan mereka menghilang dari layar kaca. Oprator dapat menwarakan layanan seperti video stream dari gol-gol yang tercipta pada pertandingan-pertandingan yang baru saja berlangsung.

Mobile internet : Jawaban untuk Kebutuhan Akan Broadband Internet

Layanan mobile internet menawarkan kemampuan melakukan hubungan internet secara broadband. Broadband internet ini memiliki prospek yang menjanjikan, mengingat banyaknya pengguna internet di tanah air. Broadband internet memberikan kepada para pengguna kapasitas jaringan yang semakin cepat. Mengingat kapasitas jaringan internet di Indonesia saat ini masih tergolong narrowband., keuntungan komparatif dari broadband internet ini tidak dapat dipungkiri.

Sejumlah operator telekomunikasi telah mengimplementasikan teknologi HSPDA yang memungkinkan tersedianya layanan mobile internet. Apabila para operator mampu menyediakan mobile internet untuk jangkauan area yang luas ditambah dengan kinerja jaringan yang handal, layanan mobile internet ini sangat potensial menarik minat masyarakat pengguna internet.

Sekarang tinggal masalah keseriusan pihak operator telekomunikasi seluler untuk memasarkan teknologi HSPDA. Terus terang saja, sampai saat ini promosi untuk layanan mobile internet belum cukup gencar, apalagi jika dibandingkan dengan promosi yang dilakukan untuk layanan telepon tarif murah. Sosialisasi perlu dilakukan dengan lebih gencar untuk menunjukkan kepada masyarakat keunggulan broadband internet dibandingkan dengan internet konvensional. Hanya dengan promosi yang lebih seriuslah layanan mobile internet dapat menjadi layanan andalan operator telekomunikasi seluler di Indonesia.

Video call dan Mobile TV : Masih Butuh Sosialisasi

Mungkin bagi banyak orang 3G identik dengan layanan video call, akibat promosi 3G yang dilakukan pihak operator cenderung menjadikan layanan video call sebagai feature andalan. Sayangnya, ternyata kemunculan layanan video call ini ternyata terjadi di saat yang salah.

Hubungan telepon tarif murah menjadi perhatian utama industri seluler satu tahun belakangan ini. Layanan video call yang berada di posisi berseberangan gagal mendapatkan perhatian yang layak. Pasar terbukti lebih.memilih murahnya hubungan telepon seluler daripada kecanggihan layanan video call.

Layanan mobile TV juga menghadapi kendala dalam hal pemasarannya. Sampai saat ini, masih sulit diraba format layanan mobile TV seperti apa yang dapat populer di masyarakat. Rasanya masih dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menemukan strategi yang tepat untuk memasarkan layanan mobile TV ini.

Kesimpulan, dalam waktu dekat ini sepertinya pihak operator belum bisa mengharapkan keuntungan dari layanan video call dan mobile TV. Akan lebih bijak kiranya  jika pihak operator lebih berkonsentrasi pada layanan video streaming dan mobil internet.

Penutup

Tersendatnya penerimaan pasar akan layanan-layanan berbasis 3G tetap ada hikmahnya.

Para operator telekomunikasi seluler dapat belajar dari kegagalan-kegagalan sebelumnya dan menyusun strategi baru, memanfaatkan umpan balik dari kegagalan saat ini. Pada prinsipnya, pasar telekomunikasi seluler adalah sesuatu yang dinamis dan selalu berubah. Kecanggihan teknologi selalu potensial menjadi hal yang menarik perhatian luar dari masyarakat. Secara pribadi, penulis tetap optimis akan masa depan teknologi 3G di Indonesia.

Dari Malam Final Putri Indonesia 2007

August 16th, 2007 by jdk

Terlepas dari Pro dan kontra selalu menyertai ajang beauty pageant seperti Putri Indonesia 2007 ini, sekali ini aku memutuskan untuk datang menonton langsung malam final yang diadakan di Jakarta Convention Centre. Ada alasan yang kuat untuk menyaksikan langsung acara ini kendati tiket masuknya tidak murah, Rp 125.000 rupiah per orang. Salah satu finalis yang akan bersaing dalam kompetisi ini adalah keluarga dekatku.

Sepupuku itu biasa kupanggil dengan sebutan “Comel”, panggilan yang sebenarnya tidak disukainya. Mungkin sekali dia menganggap “comel” itu berarti “nyinyir”. Sebenarnya kata itu diambil dari bahasa Malaysia, dimana “comel” berarti “cute“. Seorang perempuan dengan kecerdasan yang membanggakan (menilik dari kemampuan menyelesaikan soal matematika di masa try-out UMPTN dulunya, she is definitely top class).

Agak meleset dari perkiraan, ternyata acara ini menarik cukup banyak perhatian khalayak untuk menyaksikan langsung di Jakarta Convention Centre. Dilihat dari penampilan dan cara berpakaian, rata-rata para pengunjung ini adalah kalangan menengah keatas. Selain keluarga para finalis dan para undangan, banyak diantara para pengunjung adalah perempuan muda berpenampilan menarik, yang mungkin berniat mengikuti perlombaan putri Indonesia ini suatu saat nanti. Mencoba pendekatan pada para wanita cantik ini? Definitely no chance, karena biasanya mereka datang berombongan beramai-ramai untuk mendukung seorang kontestan, atau mungkin didampingi oleh “monyet” sebagai pengawal.

Dan acarapun dimulai. Seluruh tiga puluhan kontestan memasuki ruangan dan tampil di panggung didepan para penonton, dewan juri, dan pemirsa televisi yang menyaksikan acara yang disiarkan langsung oleh salah satu statiun televisi swasta ini. Masih terlalu banyak peserta diatas panggung, menyulitkan untuk menilai penampilan mereka satu persatu. Sebelum acara ini dimulai, sebenarnya juri telah menetapkan finalis-finalis mana yang akan melaju ke babak selanjutnya, yaitu babak 10 besar. Tetapi saat itu aku belum mengetahui, apakah Comel akan lolos ke babak selanjutnya?

Hubunganku dengan Comel? Sepertinya tidak akrab-akrab amat, tapi kalau dibilang jauh sih tidak juga. Sebenarnya sudah berbulan-bulan aku tidak bertemu dengan Comel, sebelum dikagetkan dengan berita tampilnya dirinya di babak final putri Indonesia ini. Saat itu, karena jarak bangku penonton ke panggung cukup jauh dan banyaknya peserta diatas panggung, aku kesulitan mencari-cari sosoknya…

Di malam final ini para finalis sering sekali berganti kostum. Setiap kontestan mungkin harus mengenakan empat atau lima kostum berbeda malam itu. Untuk mengisi waktu dan menghibur para penonton selama para kontestan tidak ada di panggung, sejumlah artis disertakan untuk menampilkan live performance. Sebut saja nama Yovie Widianto orchestra, Ungu, Agnes Monica, Gita Gutawa, Adisiti dan Christopher Abimanyu.

Dari sekian banyak artis dan musisi yang tampil tersebut, Ungu adalah yang paling kurang beruntung. Berkali-kali sound system mengalami masalah sehingga menyebabkan performa panggung mereka tidak optimal. Gangguan serupa itu tidak terjadi pada Agnes Monica dan Gita Gutawa, yang malam berusaha berusaha membawa atmosfer girlie kempanggung.

Babak 10 Besar

Kembali ke kompetisi putri Indonesia 2007, para finalis yang lolos ke 10 besar dumumkan. Ternyata Comel melaju dengan gemilang ke babak ini. Dengan hanya sepuluh kontestan yang perlu diperhatikan, aku jadi bisa mengamati dengan lebih seksama. Agak ajaib juga menyaksikan adik sepupuku yang terkadang mengeluhkan kejangkungannnya, ditengah para finalis lain yang rata-rata memiliki postur lebih tinggi dibanding dirinya. Sejumlah kontestan sepertinya rajin merawat tubuh demi penampilan fisiknya. Mungkin ada diantara para kontestan ini yang memang berprofesi sebagai model…

Di babak sepuluh besar ini masing-masing para kontestan harus menghadapi sebuah pertanyaan dari dewan juri. Secara bergiliran para peserta mendengarkan pertanyaan yang dibacakan pembawa acara Nadia Mulya dan Ferdi Hasan. Didepan kamera televisi dan disiarkan langsung ke seluruh Indonesia, para peserta menjawab pertanyaan yang diajukan. Sebuah ujian untuk kecerdasan, penampilan, ketenangan dan artikulasi.

Suli untuk menentukan siapa yang akan lolos ke babak lima besar kalah hanya mendasarkan pada jawaban para peserta. Rata-rata kontestan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan bagus. Mungkin mereka sudah lebih dulu diberitahu materi yang mungkin ditanyakan, sehingga dapat mempersiapkan diri. Kelima finalis yang akhirnya melaju ke babak lima besar rata-rata tampil tenang di layar kaca, dengan artikulai yang tidak jauh dari level seorang penyiar televisi.

Dan Comel? Haven’t I told you that she is a brainy girl? Comel menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dengan tangkas. Dimulai saat acara dihentikan untuk commercial break, Ferdi Hasan memberikan sebuah pertanyaan tidak resmi pada comel (something line, “tell me about the province you are from?”). Jawaban yang diberikan Comel sebenarnya cukup bagus dan menjanjikan, tapi artikulasinya…her voice was somewhat shaking. She should have done better. Memamng pertanyaan ini tidak resmi, tetapi diajukan diatas panggung dan didepan dewan juri, jadi mungkin sekali mempengaruhi penilaian.

Tak lama kemudian kembali on air, Ferdi Hasan dan Nadia Mulya mengajukan “pertanyaan resmi” untuk perlombaan ini, kali ini didepan sorotan kamera televisi dan disiarkan ke seluruh Indonesia. Kali ini Comel ternyata bisa menjawab dengan artikulasi yang lebih baik. And that makes me wonder. She seems to so much enjoy being broadcasted on a nationwide TV :) .

Selanjutnya, lima besar terpilih dan Comel tidak termasuk diantaranya. Anyway, I’ve got to say to her, that she did it well. I’m quite sure that walking on stage is one that she had mastered earlier. After all, aku yakin banyak yang telah dia pelajari selama sekitar 10 hari karantika putri Indonesia di hotel Nikko, terutama tentang penampilan dan komunikasi.

And the Winner is…

Berlanjut ke babak selanjutnya, aku tidak begitu yakin metoda penilaiian apa yang dilakukan di babak lima besar. Sepertinya kelima peserta hanya berdiri diatas panggung dan mungkin berbincang-bincang dengan juri. Apapun itu, dewan juri akhirnya memutuskan tiga finalis di babak pamugkas yaitu Duma Riris Silalahi dari Sumatera Utara, Putri Resmawati (Jawa Timur) dan Ika Fiyonda Putri (DKI Jakarta 4).

Di babak terakhir ini ketiga peserta harus menghadapi sebuah pertanyaan yang sama untuk mereka bertiga. Pertanyaannya sendiri cukup sederhana, kira-kira seperti ini, “Menurut anda apakah yang disebut pahlawan, dan apakah yang disebut dengan pengecut itu.”

Duma Riris Silalahi pada kesempatan pertama bereaksi layaknya jawaban anak sekolah yang menghadapai ujian essay pada ujian kenaikan kelas. Something like, “Pahlawan adalah orang yang berjuang demi rakyatnya, bla, bla, bla… pengecut adalah pihak yang melarikan diri, bla, bla bla…”. Jawaban yang tidak salah, hanya saja, anda juga mungkin akan menjawab kira-kira sama untuk pertanyaan seperti itu. Jawaban ini terlalu biasa dan kesan yang ditimbulkannya kurang kuat.

Putri Raesmawati pada giliran berikutnya menjawab dengan mantap, “Pahlawan mati sekali, pengecut mati berkali-kali”. Jawaban ini mungkin tidak lebih benar daripada jawaban Duma Riris Silalahi tadi, tapi setidaknya jawaban ini mampu membuat juri dan penonton tertegun sejenak dan berpikir. That looks pretty convincing.

Ika Fiyonda Putri yang mendapat kesempatan terakhir, malangnya memberikan jawbana yang jelas salah. Ika menjawab bahwa pahlawan adalah orang yang yang sudah berusaha dan berhasil dalam usahanya, sedangkan pengecut adalah orang yang berusaha namun gagal dalam usahanya. Sebuah kesalahan fatal di babak penentuan, dilakukan oleh finalis yang disebut-sebut berwajah mirip dengan putri indonesia sebelumnya, Agni Pratistha.

Tentunya hasil akhirnya sudah anda ketahui. The newly-crowned Putri Indonesia is Putri Raesmawati. Duma Riris Silalahi menjadi runner-up dan Ika Fiyonda Putri sebagai runner-up kedua.

Harry Potter and the Deathly Hallows : Going Da Vinci Way?

July 25th, 2007 by jdk

200pxharry_potter_deathly_hallows_us
For those of you who do not yet read the book, or are waiting for the indonesian translation, not to worry, this is not a spoiler :p

I always take Joanne Rowling as a much better writer than Dan Brown. However, for this seventh book of Harry Potter, I’ve got a feeling that Rowling is somewhat influenced by Dan Brown’s style. Throughout the book you’re gonna find quests for some precious ancient artefacts, tales of blood-spilling history, codes to decipher, turnarounds, secrets and lies, along with hollywood-like storyline, all reminds you to the controversial Da Vinci code. By the way, there is only one little connection between Harry Potter’s history and Dan Brown’s history, which is the period of witch hunt in Europe somewhere during the middle ages.

At the ending of the previous book “Half-Blood Prince”, You would think that Harry Potter would need to do too much task in one year, with four of five more horcruxes to seek and destroy, while he didn’t know yet where to seek and how how to destroy them. Not the mention that the death of Dumbledore would means there were no more wizards to match Voldemort, with his death eaters ready for mobilizations. No reasons not to attack. I previously doubted that Rowling can finish the story in the seventh book and I was suspicious that there would be an eight book. However, Rowling keep her promise to finish the story at the seventh book.

Perhaps the thing I admire the most from Joanne Rowling his her expertise in making stories with some many characters, including new characters introduced in this 7h book, while keeping each characters useful to the storyline and consistent with the previous books. Not to mention the introduction of new and important characters and the roles they play. You’ll be surprised to find out who among Harry Potter’s loyal friends fought the best alongside him. I’ll bet You never guess.

So, with all the storyline, romances, thriller, twists, surprises, and the Weasley twins’ jokes, the book is worth the price (IDR 292500). But meanwhile, Adina just told me that she purchased in for only $5 (IDR 85000) at London, and afterwards my new colleague Indra successfully found the pdf of the books, so he can read it for free. So go looking for him if you’re can’t wait to read but unwilling to pay the price :D.

Yet, I still say that the book is worth the price and the long wait.

Pak Harto on Friendster

December 26th, 2006 by jdk

Disela-sela kesibukannya menemukan desain web yang keren, temen gua cahyo menemukan situs friendsternya mantan presiden Indonesia Soeharto, di http://blogs.www.friendster.com/t/app/weblog/post?blog_id=1692239

Mungkin para pembaca tidak tertarik dengan politik datau dengan masa lalu. Lagipula tidak ada jaminan keaslian situs ini adalah betul-betul account pak Harto namun begitu situs ini tetap menarik untuk dikunjungi, setidaknya karena banyaknya teman-teman pak Harto di situs friendster ini yang keren-keren :)
Buat pak Harto, mungkin setelah punya friendster bapak juga ingin mempunyai blog, dan mungkin sedang mencari seorang penulis blog, mungkin bapak bisa mempertimbangkan saya. Yah, setidaknya sebagai penulis jangkauan saya lumayanlah pak, bisa nulis soal teknologi, politik, agama, filsafat, sejarah. Kalau bapak inginkan saya siap menulis tentang intensifikasi pertanian atau metoda penanggulangan wereng cokelat. Masalah harga bisa dinegosiasikan pak. Mohon dipertimbangkan pak. Terima kasih.

Garfield - Complete Collections

December 22nd, 2006 by jdk

With so much talks recently heard about poligamy, I get itchy to write something about it, an opinion perhaps. But on a second thought…no, it doesn’t seem like a good idea…

IImagesnstead I turn my attention to…Garfield. Yes, Garfield, the fat and arrogant cat from a comic strip, who already makes two hollywood movies. You will find a complete collection of Garfield comic strip (daily updated) on this site, http://www.ivanov.in/garfield/, from the first released one to the last published one. It would take some times to read it all. Enjoy…

It Feels Good To Win

November 22nd, 2006 by jdk

It’s a late announcement. My article ont his blog, "Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia" won XL Award 2006 Writing and Photo Competition, you can find details on this link, http://www.xl.co.id/Berita_Korporat/Berita/XL_Award_2006_Writing_%26_Photo_Competition/

Of course I’m grateful for it, my first award since 1993 (Come to think of it, Indonesia’s national soccer teams didn’t win anything since 1991. Their England counterpart has an even worse record: didn’t win anything since 1966 :p )

So, my word of thanks comes to…my parents, my family, and to everyone who encourages me to write : MasPoer and his crew for playing my first script on stage (It’s and operette titled "Sena Mencari Cinta"), Sena for convincing me that i have a scaring imagination :) , and Bernard for keeps lecturing me details of 3G .

However, according to Kishimoto Masashi (the author of "Naruto"), writing will become harder once you get an award…

Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia

September 28th, 2006 by jdk

Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia

Tahun 2006 dunia telekomunikasi Indonesia memasuki sebuah tahapan baru. Pada tahun ini operator-operator selular berhasil mengimplementasikan teknologi 3G di Indonesia. Menyusul keberhasilan ini kita saksikan para operator tersebut berlomba untuk memperkenalkan teknologi 3G kepada masyarakat, misalnya melalui iklan pada media cetak atau media elektronik.

Teknologi 3G adalah sebuah terobosan dari teknologi telekomunikasi selular sebelumnya, yang mendukung layanan-layanan dengan berbasis media-media berikut ini:
1. Suara, misalnya pada percakapan telepon atau pada nada dering..
2. Teks, seperti pada SMS (Short Messaging Service).
3. Gambar, seperti pada wallpaper atau MMS (Multimedia Messaging Service).

Teknologi 3G memperkenalkan sebuah media baru, yaitu gambar bergerak plus suara. Teknologi ini memungkinkan kita menggunakan layar handphone atau PDA (Personal Digital Assistant) untuk menyaksikan siaran televisi atau menikmati rekaman video klip. Teknologi ini juga memungkinkan layanan video call, yaitu pembicaraan telepon yang para penggunanya dapat menyaksikan ekspresi wajah dan gerakan lawan bicaranya saat itu, yang ditampilkan pada layer handphone atau PDA yang digunakan.

Memasyarakatkan teknologi 3G kurang lebih berarti menjual manfaat teknologi 3G ini ke masyarakat. Mudah dimengerti bahwa pihak operator selular telah banyak menghabiskan dana untuk investasi teknologi 3G ini, mulai dari tahapan perencanaan, penelitian, perancangan, pengembangan, pengujian sampai akhirnya implementasi teknologi 3G itu dirilis. Dengan begitu, tantangan  berikutnya bagi para operator selular adalah bagaimana menjual layanan-layanan berbasis teknologi 3G ini ke masyarakat Indonesia.

Selanjutnya pada tulisan ini kita akan bahas lebih lanjut mengenai kapabilitas teknologi 3G, sebelum meneruskan  membahas karakter konsumen Indonesia dan kemungkinan strategi pemasaran teknologi 3G.

Kapabilitas Teknologi 3G

Membahas teknologi 3G berarti membahas kapabilitas yang ditawarkannya. Sebagai komunikasi yang memungkinkan komunikasi media gambar bergerak beserta suara, teknologi 3G menawarkan berbagai fitur baru yang tidah dimiliki oleh teknologi-teknologi sebelumnya.

Diantara fasilitas yang ditawarkan teknologi 3G adalah layanan video call, yaitu hubungan komunikasi telepon yang memungkinkan pihak penelepon menatap ekspresi dan pergerakan lawan bicaranya saat itu di layar handphone atau PDA, dan begitu juga sebaliknya.

Teknologi 3G juga memungkinkan menyaksikan tayangan televisi langsung di layar handphone mereka. Hal ini memungkinkan pengguna menyaksikan acara favoritnya, baik itu sinetron, konser musik, drama, reality show ataupun siaran langsung olahraga secara mobile. Mobilitas ini adalah keunggulannya dari layanan TV konvensional. Pengguna dapat menyaksikan acara favoritnya di tengah kemacetan jalan raya, disaat listrik padam atau di tempat yang tanpa televisi, tentu saja selama ada sinyal komunikasi seluler.

Teknologi 3G menawarkan sebuah mobile-content baru, yaitu video klip. Yang dimaksud dengan video klip disini tidak terbatas pada video klip musik. Operator selular juga bias menawarkan klip momen olahraga, atau trailer film terbaru yang akan segera beredar di bioskop.

Manfaat lain yang tidak kalah penting dari teknologi 3G adalah peningkatan kecepatan layanan internet oleh operator selular. Logikanya, implementasi teknologi 3G dengan media gambar bergerak plus suara membutuhkan bandwidth yang lebih besar dibandingkan teknologi sebelumnya yang berbasis suara,gambar dan teks. Bandwidth yang lebih besar berarti jaringan yang lebih cepat, membuka peluang bagi operator selular untuk menawarkan layanan internet yang lebih cepat berkat teknologi 3G.

Meninjau Perilaku Konsumen Indonesia

Tak pelak lagi teknologi komunikasi selular adalah sebuah instrumen globalisasi. Teknologi ini telah tersebar ke seluruh dunia dan mempercepat arus komunikasi. Produk-produk handphone dan PDA dari seluruh penjuru dunia dapat ditemukan di Indonesia. Teknologi GSM maupun CDMA membawa sinyal komunikasi yang telah menembus batas-batas negara.

Tidak heran apabila ada yang menganggap perilaku konsumen telekomunikasi selular Indonesia adalah sama dengan perilaku konsumen global. Lihat saja acara televisi American Idol yang sangat digemari di Amerika, dengan metoda penilaiannya ditentukan oleh banyaknya SMS dukungan yang diterima oleh masing-masing peserta. Acara ini sukses diadopsi menjadi Indonesian Idol yang juga digemari pemirsa televisi Indonesia.

Namun hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Sebagai ilustrasi, jika di Amerika Serikat Palm Treo adalah produk PDA yang popular, di Indonesia popularitas Palm Treo kalah jauh dari Nokia Communicator. Kesuksesan Blackberry dengan fasilitas push e-mail baru-baru ini ternyata kurang bergaung di Indonesia. Dengan demikian berarti konsumen Indonesia memiliki preferensi dan standar penilaian sendiri.

Namun begitu, ketika operator yang berupaya menjual teknologi 3G ke pasar Indonesia,harus selalu menitikberatkan pada karakter masyarakat Indonesia yang menjadi konsumen. Perhatikan kasus berikut ini. Seperti kita ketahui masyarakat Indonesia cenderung tidak antusias membeli rekaman musik, baik CD maupun kaset. Alasannya adalah maraknya pembajakan yang berakibat mudahnya memperoleh CD bajakan atau file mp3. Namun menariknya, CD bajakan atau file mp3 tersebut ternyata tidak mampu menghalangi minat masyarakat Indonesia untuk membeli nada dering lagu-lagu yang sedang popular. Disinyalir pihak operator dapat meraup nilai penjualan milyaran rupiah untuk setiap nada dering lagu yang populer, untuk saat ini misalnya lagu berjudul “SMS” dari Trio Macan atau “Jablai” dari Titi Kamal.

Strategi Memasyarakatkan Teknologi 3G di Indonesia

Pada saat ini para operator telah mulai memperkenalkan teknologi 3G ke masyarakat, terutama berupa iklan di media cetak ataupun media elektronik. Ada dua pesan yang disampaikan disini. Pesan pertama adalah menginformasikan kepada masyarakat bahwa operator tersebut telah mampu mengimplementasikan teknologi 3G. Pesan lainnya adalah tentang kapabilitas yang ditawarkan oleh teknologi 3G tersebut.

Saat ini bisa dikatakan kita masih berada pada tahapan pertama dari sosialisasi teknologi 3G ke masyarakat, yaitu memperkenalkan teknologi 3G secara umum. Tak lama lagi pihak operator harus memasuki tahapan selanjutnya, yaitu secara spesifik menawarkan layanan-layanan berbasis teknologi 3G ke masyarakat.
Sebelum mulai menjual layanan berbasis 3G ke masyarakat, pihak operator harus lebih dulu memastikan infrastruktur yang dimilikinya memadai untuk sebuah layanan  berbasis 3G yang berkualitas. Teknologi 3G membutuhkan kapasitas yang lebih baik dari teknologi-teknologi sebelumnya. Sebagai contoh, bandwidth yang dibutuhkan untuk video call jelas akan lebih besar dibandingkan bandwidth untuk hubungan telepon biasa. Operator juga harus mampu menjaga kinerja layanan 3G seiring peningkatan jumlah pelanggan dengan bertambahnya pelanggan baru. Pihak operator juga harus mengantisipasi kondisi puncak penggunaan layanan 3G, misalnya pada peringatan hari-hari besar keagamaan. Bagaimanapun juga, citra dari sebuah operator akan sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan-layanan yang ditawarkannya.

Sekarang kita bahas alasan konsumen Indonesia untuk membelanjakan uangnya demi sebuah layanan seluler. Menurut hemat penulis ada empat alasan yang dapat dikemukakan, yaitu :
1. Kebutuhan .
2. Nilai tambah.
3. Gaya hidup.
4. Hobi.

Strategi 1 : Membidik Kebutuhan Konsumen

Ada saat dimana teknologi 3G bisa menjadi sebuah kebutuhan. Sebagai ilustrasi kita akan fokuskan bagian ini untuk layanan voice call. Layanan ini memiliki kelebihan dari hubungan telepon biasa, yaitu pihak penelepon dapat melihat ekpresi dan pergerakan lawan bicaranya saat itu melalui layar handphone atau PDA, dan begitu juga sebaliknya. Meskipun saat ini kita bisa menemukan layanan sejenis pada aplikasi seperti Yahoo! Messenger misalnya, voice call berbasis teknologi 3G tetap memiliki keunggulan karena sifatnya yang mobile, dapat dilakukan dimana saja selama ada sinyal komunikasi seluler.

Tidak sulit menebak konsumen potensial untuk layanan voice call ini, misalnya orang tua yang ingin menghubungi puteranya yang kuliah di negara lain, atau sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Karena itu hal berikutnya yang harus dilakukan adalah mengkomunikasikan layanan video call berbasis 3G ini pada para konsumen potensial. Rasanya tidak ada pendekatan yang lebih efektif daripada iklan pada media cetak dan elektronik. Misalnya seperti pada  ilustrasi iklan dibawah ini.

Iklan 1

Mahasiswa A sedang menelepon temannya, yaitu mahasiswa B. Hubungan telepon ini dilakukan dengan video call berbasis teknologi 3G.

Mahasiswa A  : Halo
Mahasiswa B  : Halo, hey, dari mana aja, man? Kenapa nggak pernah kelihatan di kampus? Kayaknya kamu itu jarang kuliah deh. Kapan bisa lulusnya?
Mahasiswa A  : Males. Aku nggak semangat kuliah nih. Kayaknya kok tidak ada yang menarik ya di kampus. Bosan man, bosan.
Mahasiswa B  : Jangan begitu, tidak baik lho bolos kuliah terus. Eh, tunggu sebentar ya

Seorang mahasiswi cantik berjalan kearah mahasiswa B lalu bercakap-cakap dengannya selama beberapa saat. Mahasiswa A terkesima menatap kecantikan mahasiswi tersebut di layar handphone miliknya. Beberapa saat kemudian si mahasiswa cantik tersebut berjalan meningggalkan mahasiswa B.

Mahasiswa A : Eh, siapa tuh tadi? Manis juga. Temanmu ya? Kenalin aku dong…

Beberapa tahun kemudian, mahasiswa A dan si mahasiswi cantik terlihat sedang duduk berdampingan dengan pakaian wisuda kelulusan sarjana.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, merubah hidup anda.

Strategi 2 : Membidik Gaya Hidup

Tingkat konsumsi msyarakat Indonesia sepertinya paradoks dengan kondisi perekonomian negaranya. Dengan deraan krisis ekonomi sekitar delapan tahun terakhir, disusul dengan kenaikan harga BBM tahun lalu, ternyata tingkat konsumsi masyarakat Indonesia tetap tinggi.
Setidaknya begitulah fenomena yang terlihat di dunia telekomunikasi selular. Handphone dan PDA produksi terbaru laris di pasaran. Fasilitas-fasilitas yang ditawarkan seperti oleh produk-produk handphone dan PDA tersebut mulai menjadi ikon gaya hidup kota besar, mulai dari fasilitas kamera digital built-in sampai fasilitas wi-fi yang memungkinkan pengguna untuk melakukan koneksi ke jaringan internet pada kafe-kafe yang menyediakan fasilitas hot spot.
Karena trend dan gaya hidup merupakan peristiwa budaya, promosi 3G harus selalu memperhatikan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, dan rajin mencari celah yang bisa dimanfaatkan. Kita tutup uraian ini dengan ilustrasi sebuah iklan.

Iklan 2

Seorang gadis baru keluar dari sebuah kelas kuliah, kemudian seorang pemuda berjalan menghampirinya, tanpa bicara memberikan PDA miliknya pada gadis itu, kemudian berlalu.

Si gadis, mengaktifkan PDA tersebut, ada sebuah memo bertuliskan "I love the way you look". Si gadis tersenyum, penasaran, lalu menjelajahi PDA tersebut, dan menemukan bahwa si pemuda tadi diam-diam telah mengambil fotonya dengan PDA itu pada banyak kesempatan.

Si gadis bersiap melangkah ketika seorang pemuda lain menghampirinya. Sama seperti pemuda pertama, tanpa bicara memberikan PDA miliknya pada gadis itu, kemudian berlalu.

Si gadis, mengaktifkan PDA tersebut, ada sebuah memo bertuliskan "I love the way you move, I love way you talk, and I love the way you walk". Si gadis kembali tersenyum penasaran, lalu menjelajahi PDA tersebut, dan menemukan bahwa si pemuda tadi telah mengambil diam-diam merekam semua kegiatannya dengan PDA tersebut dengan video recording, lalu di-upload di sebuah situs internet. Berkat teknologi 3G, semua video klip tersebut dapat disaksikan kembali dari situs tersebut.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, selangkah lebih maju.

Strategi 3 : Mempromosikan Nilai Tambah

Layanan berbasis 3G umumnya memiliki keunggulan dibanding layanan yang sejenis atau mirip. Layanan video call misalnya memiliki keunggulan dibanding layanan telepon biasa, yaitu pihak penelepon dan yang ditelepon dapat saling menatap ekpresi wajah dan gerakan lawan bicaranya. Aplikasi seperti Yahoo! messenger juga menawarkan layanan video call, namun tanpa disertai mobilitas seperti pada video call berbasis 3G.
Contoh lainnya adalah mobile TV. Kekurangannya langsung terlihat kentara, yaitu resolusi layarnya yang jauh dibawah umumnya layar televisi. Namun demikian keunggulan mobile TV berbasis 3G dalam hal mobilitas tetap tak terbantahkan. Acara TV berbasis 3G dapat dinikmati di layar handphone atau PDA ditengah kemacetan jalan raya, saat antri di supermarket, dan dimana saja selama ada sinyal komunikasi seluler yang memadai.
Dengan pendekatan yang tepat,  nilai tambah yang dimiliki aplikasi 3G dapat digunakan  untuk kepentingan promosi, misalnya pada contoh iklan berikut.

Iklan 3

Setting : layar televisi dibagi dua, sisi kiri dan sisi kanan. Di sisi kiri pemuda A sedang asyik menonton siaran langsung sepakbola di televisi rumahnya, demikian juga halnya dengan di sisi kanan pemuda B sedang asyik menonton siaran langsung sepakbola di televisi rumahnya,

Tiba-tiba terjadi pemadaman listrik. Pemuda A dengan mengggerutu menyalakan lilin untuk penerangan di rumahnya, lalu duduk dengan wajah jengkel…

Tiba-tiba terdengar sorakan dari rumah pemuda B, "gooooooolllll". Ternyata pemuda B tetap melanjutkan menonton siaran langsung sepakbola itu melalui layanan 3G di layar PDA miliknya.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, Bring More Options

Strategi 4 : Membidik Hobi Konsumen

Perkembangan teknologi informasi telah mempermudah orang-orang yang memiliki hobi dan kegemaran serupa untuk membentuk komunitas. Berbagai komunitas dapat kita temui saat ini di dunia virtual, mulai dari komunitas peminat pasar modal, komunitas penggemar masak-memasak, komunitas penyuka komik lokal, dan banyak lagi yang lainnya. Bukan hal yang aneh apabila anggota komunitas seperti ini banyak yang siap membelanjakan uangnya demi hobi kegemaran mereka itu. Hal ini menjadikan mereka pasar yang potensial bagi teknologi 3G. Prospek paling bagus sepertinya ada pada komunitas penggemar olahraga, komunitas penggemar musik dan komunitas penggemar film.
Teknologi 3G menawarkan berbagai hal pada para penggemar olahraga, termasuk siaran langsung pertandingan olahraga dengan mobile TV tentunya. Penggemar sepakbola liga Inggris misalnya mungkin akan tertarik pada video klip rekaman gol-gol yang terjadi pekan ini di liga Inggris. Dapat juga ditawarkan momen-momen klasik olahraga, misalnya video klip rekaman gol-gol terindah sepanjang masa.

Nada dering adalah layanan yang populer saat ini bagi masyarakat pecinta musik Indonesia. Para penggemar musik ini cukup giat melengkapi koleksinya dengan nada dering lagu yang saat ini populer. Nada dering sepertinya sudah dianggap sebagai  ekspresi pribadi, yang sedikit banyak mewakili citra diri pemiliknya. Pihak operator dapat mencoba menawarkan layanan video klip lagu terbaru bagi para penggemar musik ini, mengingat tampilan visual pada video klip selama ini telah menjadi daya tarik tersendiri dan sangat membantu promosi album rekaman yang bersangkutan.

Komunitas penggemar film adalah juga sebuah pasar yang potensial. Maraknya pembajakan film dalam bentuk CD dan DVD bajakan sejauh ini tidaklah membuat bioskop menjadi sepi. Bagaimanapun juga sensasi menonton di bioskop tetap lebih memuatkan daripada menonton film bersangkutan di layar televisi.  Pihak operator dapat bekerjasama dengan pihak distributor film asing ataupun film Indonesia untuk mempromosikan trailer dari film-film yang sedang atau akan beredar di bioskop.

Iklan 4

Chris John, Juara dunia tinju kelas bulu versi WBA sedang bertarung sengit dengan penantangnya. Beberapa saat kemudian Chris John mnyelesaikan pertandingan dengan serangkaian pukulan yang memukul jatuh lawannya hingga KO.

Pada adegan berikutnya di sebuah sasana tinju seorang pelatih memperlihatkan video rekaman rangkaian pukulan kemenangan tersebut di layar PDA pada para petinju asuhannya, yang menyaksikannya dengan terkagum-kagum. Video klip tersebut tersedia berkat teknologi 3G.

Iklan diakhiri dengan slogan : 3G, Untuk Momen Kemenangan

Penutup

Kesuksesan para operator seluler di Indonesia untuk mengimplementasikan teknologi 3G akan menjadi mubazir apabila layanan-layanan berbasis 3G gagal dipasarkan ke masyarakat. Keberhasilan para operator selular memasyarakatkan teknologi 3G di Indonesia akan tergantung pada kejelian mereka menganalisa pasar dan membidik celah-celah yang bisa ditembus. Mengingat karakter masyarakat Indonesia selama ini, konsumen akan menyambut teknologi 3G apabila teknologi ini mampu mendukung layanan-layanan yang berhasil menarik perhatian mereka. Kita tunggu bersama gaung berikutnya dari teknologi 3G di Indonesia.

Movie Review - Alexandria

December 13th, 2005 by jdk

Ada tuduhan keliru bahwa aku tertarik menonton film ini karena penata musiknya adalah Peter Pan. Salah besar. Justru karena film ini aku jadi mulai mendengarkan album ketiga Peter Pan, tadinya sih ga begitu tertarik.

About the movie, pemilihan casting yang bagus, I must say. Marcel Chandrawinata sebagai seniman yang diam-diam naksir Alexandra, Julie Estelle yang tampil meyakinkan sebagai the lovely Alexandra (padahal umurnya baru 16 tahun), Fachry Albar sebagai playboy insyaf, atau juga Kinaryosih sebagai bad girl yang tak kunjung insyaf. Kesimpulannya, ini bukan film yang sekedar mengandalkan popularitas dan daya tarik fisik para pemain utamanya.

Para Pemeran Utama ini sebenarnya rata-rata bermain bagus, sayang kadang-kadang jalannya cerita terganggu oleh artikulasi mereka yang suka ga jelas, apalagi jika hal ini terjadi pada titik-titik krusial film, misalnya pada saat salah satu aktor utama menjelaskan kenapa dia tak lagi mengejar Alexandra…

Tema cinta segitiga sebenarnya cukup klasik, sudah banyak diangkat oleh film-film sebelumnya, misalnya film "Dealova" yang dirilis beberapa bulan lalu. Alkisah, Bagas (Marcel) adalah seorang art-director freelance yang diam-diam suka dengan temannya sejak kecil, Alexandra (Julie), tapi ga pernah berani menyatakan. masalah dimulai ketika Fachri yang mantan playboy ternyata juga menyukai Alexandra…

Dalam setiap film tentang cinta segitiga, pertanyaan besarnya selalu sama, siapa yang menjadi pemenang dalam cinta segitiga itu. Merujuk pada Dedi Mizwar dalam film/sinetron "Kiamat Sudah Dekat", yang menang adalah, "yang sudah nguasain yang namenye ilmu ikhlas" :)

Unfortunately, film ini tidak terlalu istimewa menurut para juri Festival Film Indonesia 2005, yang lebih mengunggulkan "Janji Joni", "Ketika" dan "Gie". Tapi menurut aku sih, untuk genre film hiburan film ini lumayan bagus, lebih bagus dibandingkan "Ungu Violet", "Catatan Akhir Sekolah", "Me Versus High Heels" atau "Apa Artinya Cinta".

rate : B-

P.S. Kenapa posting ini dikirim telat??? blame it on my bosses, they kept me busy and still being unhappy with my work